Word of Mouth Marketing, Menurut WOMMA dan Saya

Note: Tulisan kali ini akan banyak bercampur dengan bahasa inggris :)

Sadarkah, bahwa banyak kembangan strategi dan taktik dalam digital marketing yang saat ini sering dipakai dasarnya adalah Word of Mouth Marketing? Yep, it’s very true. Content Marketing, Influencer Marketing, Viral Marketing, dsb. You name it.

Karena banyak dari kita yang perlu untuk mengaplikasikan konsep tersebut di era sekarang, ada baiknya kita memahami dasar dari konsep Word of Mouth Marketing itu sendiri.

Definisi Word of Mouth Marketing

Mari kita mulai dengan definisi Word of Mouth (WOM) dulu. Kalau mengambil definisi WOM dari WOMMA (Word of Mouth Marketing Association), Word of Mouth adalah “The act of consumers providing information to other consumers”.

Buat kita orang Indonesia, definisi itu bisa lebih mudah kita pahami dari istilah yang sering dipakai orang jawa: Getok Tular ;)

Untuk Word of Mouth Marketing (WOMM) itu sendiri, WOMMA mengartikannya begini:

  1. Giving people a reason to talk about your products and services, and making it easier for that conversation to take place.
  2. It is the art and science of building active, mutually beneficial consumer-to-consumer and consumer-to-marketer communications.

Bingung? Intinya, Word of Mouth Marketing menurut WOMMA adalah memberikan alasan yang tepat pada target pasar untuk membicarakan tentang produk dan jasa kita, dan mempermudah proses terjadinya (dan penyebarannya) pembicaraan tersebut.

Seringnya, WOM terjadi secara organik, ketika seseorang terpuaskan dan terpukau dengan produk/jasa kita. Well, actually, hal yang sebaliknya juga sangat mungkin terjadi: ketika seseorang terkecewakan dengan produk/jasa kita.

Tapi, WOM tidak hanya bisa terjadi secara organik lho :) Kita bisa encourage dan berusaha membuat itu supaya terjadi.

Organic dan Amplified Word of Mouth

Organic WOM: Terjadi secara alami ketika konsumen menjadi advokat dan memiliki keinginan alami untuk berbagi cerita serta antusiasme mereka atas produk/jasa kita.

Praktek-prakteknya meliputi:

  • Fokus pada kepuasan konsumen
  • Fokus pada peningkatan kualitas dan kegunaan produk/jasa
  • Fokus mengejar loyalitas konsumen
  • Membuka obrolan dengan target konsumen

Amplified WOM: Terjadi ketika pemasar meluncurkan campaign (atau effort lain) yang dirancang untuk membuat, mendorong, dan atau mempercepat WOM di kalangan target audiens/konsumen.

Praktek-prakteknya meliputi:

  • Menciptakan dan/atau bergabung dengan komunitas
  • Mengidentifikasi dan menggunakan Influencer, Evangelist, dan Komunitas untuk mempromosikan produk/jasa kita
  • Menggunakan iklan atau PR Material untuk menciptakan obrolan yang intens di kalangan target audiens/konsumen
  • Menciptakan obrolan dengan target konsumen

Jenis-jenis Word of Mouth Marketing

Sudah mulai lebih mudah memahami lagi kan? Banyak sekali praktek-praktek WOMM yang sebenarnya sering digunakan, terutama dalam 1 dasawarsa terakhir ini.

Mungkin bisa lebih jelas memahaminya lagi dari jenis-jenis WOMM yang umumnya sering digunakan olah para pemasar dari sejak sebelum era digital hingga saat ini.

  • Influencer Marketing: Identifying key communities and opinion leaders who are likely to talk about products and have the ability to influence the opinions of others.
  • Evangelist Marketing: Cultivating evangelists, advocates, or volunteers who are encouraged to take a leadership role in actively spreading the word on your behalf.
  • Community Marketing: Forming or supporting niche communities that are likely to share interests about the brand (such as user groups, fan clubs, and discussion forums); providing tools, content, and information to support those communities.
  • Buzz Marketing: Using high-profile entertainment or news to get people to talk about your brand.
  • Viral Marketing: Creating entertaining or informative messages that are designed to be passed along in an exponential fashion, often electronically or online.
  • Product Seeding: Placing the right product into the right hands at the right time, providing information or samples to influential individuals.
  • Cause Marketing: Supporting social causes to earn respect and support from people who feel strongly about the cause.
  • Conversation Creation: Interesting or fun advertising, emails, catch phrases, entertainment, or promotions designed to start word of mouth activity.
  • Referral Programs: Creating tools that enable satisfied customers to refer their friends.

Sumber: WOM101 dari Word of Mouth Marketing Association

Word of Mouth Marketing (WOMM) menurut Saya

Dari penjabaran di atas, sudah bisa lebih memahami tentang Word of Mouth Marketing ya? Nah, kalau menurut saya sendiri, ada penjelasan yang lebih mudah lagi untuk WOMM ini :)

Ambil dari dasar kata-nya saja: word dan mouth. WOMM membutuhkan kata-kata (words) dan orang-orang (mouths). Jadi, mudahnya, WOMM adalah proses marketing yang mengandalkan persebaran kata-kata dari mulut ke mulut. Memberikan bahan pembicaraan untuk dibicarakan di kalangan target konsumen/audiens.

Penjabarannya, Word of Mouth Marketing adalah:

  • Memahami dan menyadari bahwa happy customers adalah endorsement terbaik. Mengejar antusiasme positif dari pelanggan jauh lebih baik dibandingkan push promo terus-menerus.
  • Memberikan ‘sesuatu’ yang ‘worth to talk about’. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, WOMM needs Words and Mouths :) Ciptakan ‘words’ yang ‘worth to talk about’.
  • Mencari, membuat, dan melibatkan diri pada obrolan-obrolan yang terjadi, yang related dengan produk/jasa kita.

Jadi, pada dasarnya, semua teknik WOMM itu didasari pada:

  • Mengedukasi target pasar kita tentang produk/jasa yang kita tawarkan.
  • Mengidentifikasi siapa-siapa aja yang sekiranya tepat dan tertarik untuk berbagi cerita tentang produk/jasa kita.
  • Mempelajari bagaimana, di mana, dan kapan, opini-testimoni-cerita itu dibagikan.
  • Mendengarkan dan menanggapi semua opini-testimoni-cerita positif, negatif, dan bahkan yang netral, atas produk/jasa kita.

WOMM in Practice

Beberapa hal yang penting untuk selalu kita ingat:

  • Wow Effects: Ini adalah salah satu yang harus kita kejar saat menerapkan Word of Mouth Marketing. Dari arti katanya saja, you’ll know what to do ;) Pastikan ‘Wow’nya positif. Jaga etika dan kejujuran saat memberikan wow factors ini ke pelanggan :)
  • Dimensi Wow Factor: Kalau kita bisa memberikan diferensiasi yang unggul terhadap produk/jasa kita, itu bagus :)
    Ingat, diferensiasi bukan domain produk/jasa saja. Cara kita menyampaikan pesan, isi pesan, bahkan pride yang kita tawarkan, bisa jadi diferensiasi juga :) *Bahkan seragam karywan kita juga bisa jadi wow factor juga kan :D
  • Social Media: Semenjak Twitter mulai booming, penggunaan social media untuk marketing menjadi salah satu senjata penting untuk (1) Menyebarkan informasi, dan (2) Berdialog. Social Media sangat bagus untuk mempercepat persebaran campaign.
    Kemudahan memonitor pembicaraan, membangun engagement, mengidentifikasi dan menggunakan influencer serta evangelist untuk minimal sekedar menggiring opini, menjadi alasan penting mengapa kita perlu memanfaatkannya.
  • Storytelling: Langsung googling nama om “Budiman Hakim” aja untuk explore Why, What, How, dan bahkan Do’s and Don’ts nya ;) Legend, ituh :D
  • Community Marketing: Sudah dipraktekkan oleh banyak pemasar sejak sebelum era digital dimulai. Community marketing kini semakin do-able dengan adanya social media dan digital forums. Ingat, kita tidak harus membuat komunitas kita sendiri. Bergabung dan berbagi benefit dengan komunitas-komunitas yang sudah ada juga sama kok manfaat-nya. Bahkan (bisa) lebih ;)
  • Evangelist: Find or Build your own Evangelist Club! Penjelasan sederhana tentang Evangelist bisa dibaca dari tulisan mas @Yuswohadi di sini.

Penutup

Sejak sekitar 10 tahun terakhir, sejak era pemasaran digital dimulai (seingat saya, adalah twitter yang membuat era ini masif dimulai. dan saya beruntung bisa memanfaatkan momen itu melalui akun @LiburanJogja), praktek-praktek turunan dari Word of Mouth Marketing banyak sekali digunakan oleh pemasar, maupun para PR People. Ada baiknya kita mempelajari dan memahami dasar dari konsep tersebut, agar dapat menerapkan yang terbaik untuk produk/jasa kita.

Ada banyak dasar konsep atau jenis dari WOMM yang bisa gunakan. Mulai dari Community Marketing, Influencer Marketing, hingga Referral Programs. Mana yang bisa atau paling cocok untuk kita terapkan?

Di bawah ini, saya coba berikan check-list sederhana untuk memastikan produk/jasa kita WOM-able. Silahkan diunduh :)

Ingat, jangan hanya fokus di produk, WOM bahkan bisa terjadi karena konten/proses komunikasi itu sendiri :)

Thanks to perkembangan dunia digital, for making WOMM easier ;)

Tips: Mempelajari anatomi proses campaign peluncuran film-film box office, bisa jadi salah satu bahan menarik untuk mempelajari bagaimana strategi dan taktik dari Word of Mouth Marketing dijalankan.

Getting Out of the “Crowd”..!

Note: Tulisan ini adalah tulisan saya di sekitar tahun 2007 yang dimuat di majalah Marketing. Terselamatkan berkat Internet WayBack Machine :) Tulisan asal bisa dilihat di sini.

Anda tentu pernah mendengar buku berjudul “Blue Ocean Strategy”. Buku itu adalah karangan seorang Profesor Strategi dan Manajemen Internasional di INSEAD bernama W. Chan Kim, bersama rekannya, Renee Mauborgne, yang juga seorang Profesor di INSEAD. Buku itu pernah mengalami masa jaya-jayanya pada sekitar dua-tiga tahun yang lalu. Menjadi pembicaraan banyak orang, terutama di kalangan pebisnins dan akademisi, sejak buku itu mulai diterbitkan. Dalam buku tersebut, mereka menawarkan konsep mereka yang bernama sama dengan judul bukunya; Blue Ocean Strategy.

Inti dari konsep itu adalah tentang bagaimana kita menemukan atau menciptakan ruang pasar baru, di mana belum terdapat satu pesaing pun di dalamnya. Ruang pasar baru itulah yang mereka sebut sebagai Blue Ocean; suatu ruang pasar yang belum pernah ‘terjelajahi’, karena memang belum pernah ada yang memikirkan atau menciptakannya.

Sekarang ini, dua tahun sejak buku tersebut mulai diterbitkan, banyak perusahaan yang kemudian menggunakan konsep tersebut. Paling tidak, mereka telah meng-klaim (dengan sangat bangga) bahwa mereka telah mengadopsi konsep tersebut. Padahal, sebenarnya konsep tersebut tidak dapat benar-benar dikatakan baru atau orisinal, menurut saya.

Sepanjang pengamatan saya, banyak sebenarnya contoh kasus produk yang ‘berenang’ sendirian dalam Blue Ocean seperti yang dimaksud oleh duo yang pernah ditahbiskan oleh Sunday Times sebagai “two of Europe’s brightest business thinkers” ini, paling tidak pada saat produk tersebut pertama diluncurkan. Contoh: Walkman dari Sony, rokok A-Mild dari Sampoerna, dan Teh Botol Sosro. Sedangkan untuk kategori industri, kita semua dapat melihat dengan jelas bahwa keberadaan industri telekomunikasi, dengan jenis produk terlarisnya yang bernama telepon genggam, telah sempat bikin kinerja PT. Pos Indonesia amburadul.

Dari contoh-contoh yang saya sebut di atas, Anda tentu sudah mulai paham tentang apa yang sebenarnya dimaksud oleh W. Chan Kim dan Renee Mauborgne ini. Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa produk-produk/perusahaan tersebut adalah pionir dalam bidangnya masing-masing; sesuatu yang pada saat itu belum pernah ada yang memikirkan atau melakukannya. Apa yang mereka lakukan itu telah merubah ‘aturan main’ dalam industri, serta sekaligus, secara langsung maupun tidak langsung, telah meningkatkan standard level of customer needs and wants.

Get Out from the Crowd! Itu intinya. Keluarlah dari kerumunan kompetisi dalam pasar yang ada, dan ciptakan ruang pasar baru untuk produk atau perusahaan anda. Ciptakanlah sesuatu yang ‘berbeda’ atau belum pernah ada sebelumnya, dan, sebisa mungkin, jangan nekat masuk ke industri hanya dengan berbekal me-too products. Karena perjalanan produk anda nanti akan menjadi penuh liku, penuh duri dan rintangan, bahkan ketika anda memiliki kompetensi yang hebat di segala lini. Walaupun jika pada akhirnya nanti anda dapat berhasil memenangkan persaingan, saya 90% yakin dan dapat memastikan bahwa cost dan resources yang harus anda keluarkan untuk mencapai kemenangan tersebut sangatlah besar.

Menurut saya sebenarnya konsep Blue Ocean Strategy ini bukanlah sesuatu yang baru. Walaupun W. Chan Kim dan Renee Mauborgne pernah menolak mentah-mentah anggapan tersebut, konsep mereka sangatlah mirip dengan konsep “diferensiasi” milik Jack Trout. Bedanya hanyalah, pada buku Blue Ocean Strategy ini, W. Chan Kim dan Renee Mauborgne memberikan kerangka kerja dan alat analisis untuk memformulasikan konsep yang mereka tawarkan itu, secara sistematis. Itu saja menurut saya. Bahkan sejak lebih dari 30 tahun yang lalu saja, Theodore Levitt, seorang guru besar Harvard, sudah pernah menyatakan tentang perlunya menjadi ‘berbeda’. Namun memang, W. Chan Kim dan Renee Mauborgne memberikan kerangka-kerangka konseptual untuk mencapai dan menciptakan suatu diferensiasi, dan memberinya nama Blue Ocean Strategy.

Untuk lebih memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pendapat saya, let me put it this way: berenang-renang sendirian dalam suatu Blue Ocean adalah merupakan hasil akhir dari sebuah diferensiasi yang unggul. Bagaimana menurut anda?

Nah, masih menurut saya lagi tentunya, untuk dapat menjadi ‘berbeda’ dari yang lain, tidak harus selalu dengan berusaha menciptakan suatu ruang pasar baru. Hal itu bisa dimulai dari value innovation, atau hanya sekedar memberikan value added pada produk/jasa yang sudah ada. Contoh: anda pasti pernah mendengar anggapan umum bahwa produk-produk Wings adalah me too products dari produk-produk Unilever. Tetapi jika anda lebih memperhatikan, sebenarnya Wings selalu memberikan value added pada produk-produknya; suatu plus value yang tidak terdapat pada produk-produk Unilever.

Memberikan plus value pada sebuah produk caranya bisa bermacam-macam. Bisa dengan menambah features atau benefits dari produk-produk yang sudah ada, bisa dengan menawarkan harga yang lebih rendah untuk benefits yang sama (atau bahkan lebih) dengan produk yang sudah lebih dulu beredar di pasar (seperti yang selama ini selalu dilakukan oleh Wings -pen.), bisa juga dengan memberikan service yang lebih superior, atau bisa juga dengan memberikan experential value terhadap produk tersebut. Ingat, dari kaca mata customer, value adalah hasil dari what to ‘get’ dikurangi dengan what to ‘give’. Nah, ‘get’-nya inilah yang bisa bermacam-macam.

Cara lain, adalah dengan melakukan pengembangan dari produk yang telah ada. Contoh: dulu kita hanya bisa mengandalkan floppy disk sebagai media penyimpanan data dari komputer, namun kemudian muncul CD yang dengan seketika langsung menciptakan standar baru dalam pasar sebagi media penyimpanan data. Kini, CD pun sudah mulai ditinggalkan semenjak munculnya Flash Disk yang memang secara fungsional lebih baik, dan lebih portable. Contoh-contoh di atas telah menunjukkan dengan jelas bahwa ‘hanya’ dengan berinovasi mengembangkan produk-produk yang telah ada sebelumnya dapat menciptakan the new standard level of customer needs and wants.

Cara lain lagi, untuk menjadi berbeda dan kemudian berenang-renang sendirian dengan penuh kemenangan di Blue Ocean, juga bisa didapat dari pricing-strategy. Dengan mengefesienkan segala macam proses produksi, otomatis anda dapat menawarkan harga yang lebih rendah dari pesaing bukan? Itu kalau anda ingin menarget pasar menengah ke bawah yang notabene selalu memperhitungkan value per money. Mereka memang lebih sering memperhitungkan functional benefits ketimbang emotional benefits. Yang penting fungsi/tujuan yang dibutuhkan terpenuhi, harganya murah, itu sudah cukup bagi mereka.

Namun patut dicamkan, menurut saya, harga yang murah tetap harus dibarengi dengan kualitas yang dapat dipertanggung-jawabkan. Anda tentu sering dengar pernyataan: “lha wong harganya cuma segitu, pantes aja kalau gampang rusak!”. Bagi saya itu adalah sebuah mindset yang salah! harga yang murah bukan alasan untuk menjual produk dengan kualitas ‘buruk’, apalagi bila tidak sesuai dengan janji-janji yang tercantum pada product package ataupun iklan-iklan yang ada. Yang harus di-minimize (di-efesiensikan) adalah proses/aktivitas produksinya, bukan kualitas atau benefitsnya! Lebih baik anda mengeluarkan produk dengan harga standar dengan kualitas yang standar pula, daripada menawarkan produk yang murah, tapi kualitasnya buruk.

Lagi-lagi Wings bisa dipakai sebagai contoh untuk hal ini. Selain memberikan plus value pada produk-produknya dibanding produk-produk kompetitor, produk-produk Wings, secara rata-rata, harganya selalu berada di bawah harga produk-produk Unilever yang merupakan kompetitor sejatinya. Hal itu bisa dicapai bukanlah karena Wings memproduksi produk-produk dengan kualitas yang lebih rendah, namun adalah berkat ‘kehebatan’ mereka dalam memperkuat kompetensi di segala lini, mulai dari hulu ke hilir, sehingga biaya produksi mereka dapat lebih rendah dibandingkan pesaing-pesaing yang ada. Southwest Airlines, pelopor Low Cost Carrier, yang dengan cerdas memangkas berbagai macam pernak-pernik yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi customer selama dalam perjalanan penerbangan, juga dapat dipakai sebagai contoh untuk hal ini.

Itu tadi merupakan gambaran bila anda ingin meluncurkan produk dengan pasar menengah ke bawah sebagai targetnya. Sedangkan bila anda ingin menarget pasar premium, yang seringnya selalu memikirkan prestise dan image, anda dapat menawarkan produk dengan harga yang juga ‘premium’ (baca: mahal -pen.) tentunya. Tentu saja harga yang premium tersebut harus dibarengi dengan kualitas yang tinggi pula! Sebab, karakteristik needs and wants dari customer jenis ini sangat peduli dengan kualitas, dan tidak lagi ‘sensitif’ terhadap harga. Bahkan mereka biasanya ‘mendambakan’ adanya produk ataupun pelayanan yang customized, khusus untuk mereka pribadi, dan mereka bersedia membayar ‘lebih’ (baca: mahal -pen.) untuk itu.

Pricing ini erat kaitannya dengan positioning sebuah produk ataupun suatu perusahaan dalam industri. Anda harus memilih, antara menjadi produk/perusahaan yang akan melayani pasar menengah ke bawah atau menjadi produk/perusahaan yang akan melayani pasar menengah ke atas. Dan anda harus konsisten serta fokus terhadap pilihan anda. Tidak bisa serakah untuk berusaha mengambil semuanya! Brand association-nya akan rancu/kabur nantinya. Itulah sebabnya mengapa dahulu Mercedes Benz, yang sempat berusaha memperluas range pasarnya dengan meluncurkan versi produk dengan harga yang terjangkau, berpikir ulang, karena hasilnya ternyata tidaklah menggembirakan. Alasannya seperti yang saya katakan di atas, positioning dan brand association-nya menjadi rancu. Sekarang ini, kita tidak mungkin akan mendapati Mercedes Benz meluncurkan produk dengan harga yang terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah, seharga dibawah 100 juta misalnya. Walaupun, mungkin, mereka sebenarnya bisa saja melakukan hal tersebut kalau dilihat dari sisi resources yang dimilikinya.

Lalu, apa yang menyebabkan positioning begitu penting? Bagi saya positioning adalah tentang di manakah perusahaan ingin memposisikan dirinya/produknya dalam benak pasar. Dulu, Al-Ries dan Jack Trout sampai pernah membuat buku berjudul “Positioning: the Battle of Your Mind”. Hermawan Kartajaya pun dengan tegas mengatakan bahwa positioning itu gunanya adalah to win the mind share! Kenapa penting? Karena dalam pasar terdapat banyak manusia, dengan umur, karakter, dan interestnya masing-masing. Dan mereka sering tidak mau ‘dipersatukan’ untuk hal-hal tertentu! Status ekonomi yang berbeda-beda tentunya membuat gaya hidup mereka berbeda-beda juga kan? Dengan begitu, needs and wants mereka tentunya juga berbeda! Belum lagi kalau bicara masalah taste, tentu akan jauh lebih beragam lagi.

The next level, atau mungkin bisa juga disebut sebagai the ultimate level, untuk menjadi berbeda dan kemudian berenang-renang sendirian dengan penuh kemenangan dalam Blue Ocean, barulah mengenai menciptakan suatu ruang pasar baru dan menciptakan suatu aturan main baru dalam industri yang ada, sekaligus menciptakan the new standard level of customer needs and wants. Nah, untuk melakukan level yang terakhir ini, produk anda haruslah merupakan produk yang visioner. Untuk itu, anda dituntut untuk sering ‘turun’ ke lapangan demi menggali dan mendapatkan insight dari pasar. Ingat, dibutuhkan adanya seseorang yang visioner untuk dapat menciptakan suatu produk yang visioner! Karena itu, sering-sering lah ‘turun gunung’, dan jangan hanya mengandalkan data riset saja.

Rhenald Kasali dulu pernah mengatakan, dalam sebuah acaranya di salah satu televisi swasta: “jika anda ingin usaha anda sukses dan profitable, langkah yang harus anda lakukan adalah be the first, or be different!”. Tentu saja sukses dan profit yang Ia maksud adalah sustainable success and profits, karena bila kesuksesan dan keuntungan yang diraih itu hanya untuk jangka pendek saja, tidak akan terlalu berarti bukan? Oleh sebab itu, jangan pernah satu kali pun berpikir untuk berhenti berinovasi, selalu lah berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru. Tujuannya tentu adalah supaya anda dapat selalu menjadi yang pertama ataupun yang berbeda.

hope this may help or inspire you for getting out from the “crowd”..!

Marketing Funnel for Everyone

Dalam Template Marketing Funnel ini, saya menggunakan AISAS Model (Attention, Interest, Search, Action, Share) yang dibuat oleh Dentsu.

Pertama kali menemukan model ini dalam buku The Dentsu Way, tahun 2010 yang lalu. Dan selalu menggunakannya untuk bisnis saya sendiri dan setiap business project yang saya kerjakan sejak itu.

IMHO, untuk bikin suatu communication design yang terencana dan rinci buat setiap produk yang kita miliki, AISAS Model ini sampai detik ini masih sangat relevan kok :)

Saya customize dan adjust sedikit dari model AISAS yang asli, namun tetap memakai dasar yang sama: Attention, Interest, Search, Action, Share. *Semoga pemahaman saya tidak salah :)

Ada sedikit tambahan tentang The Flywheel Model, beserta keterangan dan penjelasan singkat tentangnya, dalam file tersebut.

From what I see, mengkombinasikan Business Canvas dengan AISAS, dan menjalankannya dengan memahami dasar konsep dari The Flywheel Model, sepertinya cukup untuk menjadi dasar dalam menggerakkan bisnis kita di era sekarang ini :)

 

Seperti template Business Canvas yang sudah saya upload di sini, saya mencoba membuat template juga dan saya upload di sini biar bisa bantu lebih banyak orang.

Seperti template sebelumnya, file ini saya sebarkan dalam format yang editable (dalam hal ini PowerPoint), supaya dapat langsung digunakan dan diisi di file yang sama. Semoga petunjuk-petunjuk yang saya coba berikan sudah cukup mudah dipahami dan bisa membantu :)

Enjoy! ;)

The biggest benefit of documenting your plan is: it enables you to even confront your own thoughts.
— Arya Dhiratara

Definisi Marketing Funnel kurang lebih adalah proses untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan tahapan-tahapan yang harus dilalui suatu produk, hingga produk itu akhirnya terbeli.

Dari mulai tahap awareness, saat target pasar kita pertama kali mengetahui atau mendengar tentang produk kita, hingga tahap terjadinya proses pembelian atau transaksi.

Yes, we do need to identified all of those stages, bahkan sejak sebelum produk itu diluncurkan, in order to find the best communication design/plan for each of our products.

Di era sekarang ini, Marketing Funnel juga harus meliputi tahapan yang penting setelah terjadinya proses pembelian; rekomendasi / referral / word-of-mouth, agar siklus-nya bisa terus berulang, terus dan terus. AISAS Model dari Dentsu mampu memfasilitasi itu.

Hope it helps!

Disclaimer:
Saya ngga jago. Hanya bisa sedikit, dan tau sedikit. I’m far from mastering it. Kalau ada yg salah dari pemahaman saya, mari diskusi ;)
Japri, komen, kasih feedback, input, bahkan cacian, I’m encouraging you to do that, semuanya pasti bisa membantu untuk membuat template-semi-modul ini jadi lebih baik. Iya, ini akan saya update terus ;)

So, your feedback or comment will be much appreciated. It will help me, on helping others :)

Business Canvas for Everyone

Berawal dari hasil menata ulang bisnis saya sendiri di bulan januari kemarin, mem-breakdown ulang semuanya hingga detail terkecil menggunakan Business Model Canvas, ada beberapa sahabat yang kemudian minta dibantu membuat business canvas juga untuk usahanya masing-masing.

Akhirnya, saya coba membuat semacam template, agar dapat membantu lebih banyak orang.

Dalam template ini, saya mencoba memberikan beberapa petunjuk untuk mengisi. Jadinya ini template-semi-modul :D

Semoga sudah cukup mudah dimengerti dan dapat memudahkan siapapun untuk membuat kanvas bagi bisnisnya.

Dari awal, saya sengaja dan memang berniat untuk tetap menyebarkan ini dalam format yang writable dan editable (dalam hal ini power-point), agar siapapun yang menggunakannya dapat langsung mengisi di file yang sama.

Saya juga sengaja memilih menggunakan font yang sangat standar, ‘arial black’ untuk judul dan ‘calibri’ untuk konten, agar sebisa mungkin tampilan / lay-out nya tidak berubah bila dibuka di tempat lain.

Enjoy! :)

The biggest benefit of documenting your plan is: it enables you to confront your own thoughts.
— Arya Dhiratara

Template Business Canvas for Everyone ini saya adaptasi dari template Business Model Canvas yang diusulkan pertama kali oleh Alexander Osterwalder dalam thesis PHD nya; Business Model Ontology.

Buat yang belum pernah mendengar, Business Model Canvas adalah strategic management dan lean startup template untuk mengembangkan dan mendokumentasikan model suatu bisnis.

Template ini sangat cocok untuk diterapkan pada situasi industri bisnis saat ini, yang terus mengalir dan berubah dengan sangat cepat. Instead of membuat business plan yang berlembar-lembar, Business Model Canvas ini menyederhanakan proses itu dengan mendetailkan hal-hal yang utama saja.

Kita jadi bisa memperpendek proses perencanaan, mempercepat proses eksekusinya, dan tentunya, memberikan fleksibilitas lebih untuk terus me-review dan meng-update business canvas kita, secara kontinu.

Saya sendiri berencana untuk terus meng-update business canvas saya secara periodik. Karena pasti ada temuan-temuan baru yang bisa dimasukkan saat mengeksekusi rencana-rencana yang ada di breakdown to do list yang saya buat.

Hope it helps!

PS:
Next project, saya akan coba membuat template khusus untuk Product Marketing Funnel (yang selalu saya gunakan beberapa tahun terakhir ini adalah AISAS Model milik DENTSU) supaya bisa memberikan penjabaran dan petunjuk yang lebih detail (dalam file di atas, karena memang statusnya additional, bagian ini mungkin masih kurang detail). Big Thanks buat Delly untuk idenya ;)

For everyone, kalau ada ide/butuh PPT for Business yang lain, request aja yah. Siapa tau bisa buatin ;D

Disclaimer:
Saya ngga jago. Hanya bisa sedikit, dan tau sedikit. I’m far from mastering it. Kalau ada yg salah dari pemahaman saya, mari diskusi ;)
Japri, komen, kasih feedback, input, bahkan cacian, I’m encouraging you to do that, semuanya pasti bisa membantu untuk membuat template-semi-modul ini jadi lebih baik. Iya, ini akan saya update terus ;)

So, your feedback or comment will be much appreciated. It will help me, on helping others :)

Update: Template khusus Marketing Funnel untuk bikin well-planned communication desain buat setiap produk yang kita punya, sudah saya buat dan upload di sini.

Merry Christmas, Everyone !

Waktu kecil, saya disekolahkan di sekolah Katolik St. Carolus oleh ibu-bapak saya.

Setiap hari Senin, saya ikut masuk Gereja, menemani teman2 menjalani Misa rutin sekolah.
Doa-doa seperti Bapa-Kami, Salam Maria, dsb saya hafal sekali. Bahkan yang versi bahasa Inggris :)

Saya menikmati sekali masa-masa itu. What I like the most from those life moments: My Friends. Asik dan tulus dalam berteman.

Kenapa ibu-bapak saya tidak takut saya terpengaruh atau bahkan tertarik mengikuti kepercayaan yang dianut teman-teman saya yang 99% nasrani itu?
Bahkan ibu-bapak saya tidak meminta dispensasi ke sekolah agar saya tidak mengikuti Misa mingguan yang selalu saya ikuti dengan suka-cita.

Saya jawab dengan pertanyaan lagi: kenapa kita harus merasa ‘insecure‘ dengan agama kita? :)

Setiap hari minggu, 2 minggu sekali atau 1 bulan sekali, saya ikut pengajian di pesantren yang kebetulan bapak saya ikut menjadi salah satu pengurus di sana: Pesantren Al-Fitrah, di Kedinding, Surabaya.

Saya juga menikmati sekali masa-masa itu. Pertama kalinya saya mengenal dan menggunakan langsung istilah Kyai (Yayi biasanya nyebutnya), Habib, Ustad, adalah di pesantren itu. “di Pondok”, kalau bapak saya biasa menyebut.

Bersyukur sekali, saya bertemu dengan lingkungan itu. Lingkungan yang dipimpin oleh seseorang yang memiliki kharisma luar biasa besar, namun tetap ‘menunduk’.

Dengan kharisma dan massa yg besar seperti itu, tidak pernah satu kalipun beliau merasa lebih tinggi dan lebih baik dari yg lain. Di setiap pengajiannya pun, kalimatnya selalu diawali dengan ‘kulo kalih sampean’, instead of ‘kalian itu’.

Saya tidak ‘berani’ dan tidak ingin menyebut nama beliau (alm) di sini, googling saja tentang pesantren tersebut, pasti tersebutkan namanya. Satu-satunya orang selain ibu saya yang bisa membuat saya menangis karena merasa ‘kecil’, saat berdoa.

And everything was fine, back then :)

Saya belajar dari semuanya. Saya mengambil setiap momen yang ada, di semua sisi kehidupan saya waktu itu untuk bekal saya di masa depan.

Saya tidak pernah menduga, kalau masa depan yang saya alami sekarang ini, jauh berbeda dengan apa yang saya alami dan bayangkan dulu.

Jujur, saya khawatir dengan lingkungan yang akan didiami oleh anak2 saya nanti, saat mereka sudah mulai besar.

Saya sangat mendambakan mereka bisa seperti saya dan kakak saya waktu kecil dulu, bebas berteman dan asik bersahabat dengan siapa saja, tanpa perlu memandang agamanya.

Agama itu milik pribadi. Itu bukan suatu identitas yang perlu ditonjolkan dan dipertontonkan.

Itu kenapa saya tidak pernah sekalipun ‘ngomong agama’ di media sosial, kecuali untuk perayaan dan memberi ucapan selamat :)

Yang mengaku islam, ulama, ustad, dsb, tapi perilakunya berbeda jauh dengan apa yang saya temui dulu sewaktu kecil.

Entah apa yang sebenarnya mereka kejar. Entah seberapa dalam mereka belajar.

Saya bukan penghafal Qur’an. Bukan juga orang yang fasih dengan Hadist. Tapi saya meyakini satu hal yang sangat mendasar: apa yang mereka teriak-teriakkan itu bukan Islam yang saya kenal :)

Sedikit saran dari saya, belajar lah agama dari orang-orang yang jauh dari hingar-bingar media, apapun itu.

To all my friends, specially to all my St. Carolus friends, I wish you a very merry Xmas! Salam hormat untuk keluarga :)

Have yourself a merry little christmas. Salah satu lagu natal favorit saya.
Selalu saya putar di saat-saat seperti ini, sambil mengenang keceriaan teman-teman berseragam celana pendek abu-abu dan rok kotak-kotak bewarna merah-hitam :)

Lauren Daigle – Have Yourself A Merry Little Christmas

Actually, this is my favourite version of this song :)

*tulisan ini adalah celoteh saya di facebook saat natal tahun 2017 kemarin. ditulis di tengah situasi di mana beberapa kelompok berlabel agama mayoritas di negari ini sedang ‘merasa sangat superior’ dengan agama-nya. bisa di lihat di sini.

Another Point of View (6): ‘Bermain’ Diferensiasi di Konten

Diferensiasi

Di awal dekade 2000’an, Jack Trout membuka bukunya yang berjudul “Differentiate or Die“, dengan pernyataan: “Differentiating products today is more challenging than at any other time in history. When our earliest ancestors wondered, “What’s for dinner?” the answer was clear: It was whatever the neighbourhood could run down, kill and bring back to the cave. Red meat? White meat? There was only one choice; it was a simpler time.”

Sudah berjalan hampir 2 dekade sejak buku itu dipublikasikan. Kini, mendiang Jack Trout pasti akan mencetak sangat tebal kata-kata “it was a simpler time” bila sempat mencetak ulang bukunya yang dulu sangat populer itu.

Konsep Diferensiasi Produk ini sendiri pertama kali diusulkan oleh Edward Chamberlin dalam Theory of Monopolistic Competition (1933).

Diferensiasi, mudahnya, adalah segala sesuatu yang bisa membedakan produk/jasa kita dengan merek lain yang sejenis.

*not finish yet, working progress*