Berbisnis harus sesuai dengan passion? I really don’t think so

Bagi saya, petuah-petuah tentang berbisnis harus sesuai dengan passion-nya, itu sedikit overrated. Tidak semua orang punya passion yang bisa dijadikan bisnis, dan tidak semua orang punya kesempatan untuk berbisnis atau bekerja sesuai passionnya.

Contohnya adalah saya sendiri. Tidak seperti kakak saya yang sedari dulu hobinya di otomotif dan suka sekali organize things. Dia sekarang kerja di dunia EO, dan siap berbisnis buka bengkel mobil nanti ketika sudah ada kesempatan.

Dari dulu hobi saya cuma 2. Main basket dan musik. Untuk musik, skill saya terlalu amateur untuk bikin dia bisa dijadiin penghasilan. Untuk basket? Nah ini lebih bikin bingung lagi. Untuk serius jadi pemain basket profesional, selain situasi industri olahraga di Indonesia yang kurang menjanjikan, skill saya juga ga jago-jago amat. Sedikit di atas tingkat amateur *smile*. Trus, mau apa, jualan bola basket? sewain lapangan basket? I really don’t think it’s gonna bring me sustainable profits.

Contoh kedua. Saya yakin, para bapak-bapak tukang becak, bapak-ibu petani, dan banyak orang seperti mereka, mostly tidak bermimpi dan bercita-cita seperti itu tadinya. But, that’s life, jalan hidup kita, ga bakal ada yang tau.

I’m not saying that menjadi tukang becak atau petani itu bukan hal yang membanggakan. Tapi banyak sekali generasi saat ini yang tidak menganggap itu menarik.

So… masih mengagung-agungkan kalimat “berbisnis harus sesuai dengan passion“?

Saya sendiri dulunya tidak pernah ada bayangan bakal berbisnis di bidang Traveling Services (saya punya @LiburanJogja -jualan jasa paket wisata dan outing di jogja). Lebih jauh lagi, saya bahkan tidak pernah ada bayangan dulunya kalau bakal stay hidup di Jogja dan berbisnis di bidang ini.

Saya memulai bisnis di bidang Traveling Service ini dulunya berawal dari coba-coba nyewain mobil. Dulu memulai bisnis juga karena harus resign dari pekerjaan dan meneruskan kuliah.

Awalnya bingung banget, mau berbisnis apa. Alasannya seperti yang sudah saya ceritakan di atas. But I really need to make something for a living.

Nongkrong sana-sini, ngobrol sama temen-temen, berharap dapet ide dan input. Tetap bingung.

Sampai akhirnya ada salah satu sobat saya (Fani) yang bilang, “kalo menurutku, mau bisnis apapun, kamu pasti bisa masarinnya kok”. Gitu dia bilang.

Untungnya saya nurut ama kalimat penyemangat sobat saya itu.

Waktu itu saya punya mobil satu. Avanza taun 2009 bernomor plat L 1920 CN. Kebetulan saya punya satu temen yang bergerak di bisnis persewaan mobil di Jogja. Tiba-tiba aja kepikiran, kenapa mobil ini ga ‘di-karya-in’ aja. Akhirnya saya minta diajarin segala macam pernak-pernik tentang sewa mobil ke temen saya itu.

Itu awalnya… sama sekali tidak related to passion kan? :)

Sekarang saya punya @LiburanJogja, metamorfosis dari persewaan mobil yang dulu saya rintis. Tidak perlu saya terangin di sini, apa dan sudah bagaimana si @LiburanJogja ini. Intinya, Life is good, and I’m happy :)

Dulu, sedari masih pakai seragam putih abu-abu, saya punya ambisi dan mimpi besar untuk berkarir dan naklukin Jakarta, kota yang memonopoli perputaran uang dan perkembangan industri di negeri ini itu. But life brought me to this path. We don’t need to be a freak idealist, rite? ;)

Berbisnis atau bekerja itu tidak melulu harus related dengan passion kita. Ikutin aja peluang-peluang yang ada, pilih yang kita rasa kita bisa jalanin, dan fight for it.

Saya setuju sama obrolan di milis @startuplokal waktu itu….
Follow the Money, and you will get your passion” ;)