Semua bisa menjual dan membeli apa saja

Dunia bisnis sudah berubah. Kemajuan teknologi memberikan ruang yang sangat luas bagi kita semua untuk berkreasi membuat produk baru. Baik yang itu sifatnya murni meniru, menambah sedikit modifikasi (ATM), maupun yang benar-benar baru –originally.

Pada saat yang sama, perkembangan teknologi informasi membuat barrier untuk ‘menjual’ produk tersebut nyaris tidak ada lagi saat ini.

Singkatnya, kita jadi bisa membuat apa aja, menjual apa aja… dan membeli apa aja… dari mana aja.

Contoh-contoh sederhana ini pasti semua mengamini:

  • Online:
    Sebagai pengusaha, kita bisa dengan mudah ‘menjual’ produk/jasa kita melalui media-media online; membuat website kita sendiri, melalui online marketplace, dan bahkan di media-media sosial (atau menggunakan semuanya). Begitu juga sebaliknya, saat kita perlu membeli.
  • Offline:
    Di Jogja kita bisa menemukan banyak penjual jajanan dan minuman-semi-cepat-saji baru yang ‘hanya’ sekedar menyewa halaman depan rumah tetangga untuk berjualan. Memang tidak legal, tapi di Jogja ini menjamur :)

Yang legal dan lebih serius? Di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini, proses mendirikan perusahaan baru semakin dipermudah.

Fyi, Ease of Doing Business (EoDB) di Indonesia sejak tahun 2016 hingga 2018 total naik sebanyak 37 tingkat/peringkat. Dari peringkat 114 pada tahun 2015, menjadi 109 di tahun 2016, menjadi peringkat 91 pada tahun 2017, dan 72 di tahun 2018. Kita adalah Top Performer di antara negara-negara Asean untuk area ini.

Di survei tahun ini, peringkat EoDB Indonesia turun 1 tingkat (menjadi peringkat 73), meleset jauh dari target pencapaian pemerintah. Tapi dari indikator-indikator yang umum semuanya naik, dan poin-nya banyak yang tidak sedikit. (*Baca detailnya di sini)

Saya sendiri menikmati kemudahan-kemudahan ini saat membuat PT untuk @LiburanJogja, tahun 2016 kemarin. Semuanya jadi mudah dan cepat karena banyak proses yang sudah dijadikan 1 atap pengurusannya.

Saya juga menikmati sekali perubahan tarif PPh Final sebesar 0,5% yang berlaku sejak bulan Agustus 2018 kemarin :)

Kembali ke tema. Semua perubahan-perubahan yang terjadi saat ini membuat kita, saat menjadi konsumen, menjadi sangat peduli sekali dengan harga.

Mendapatkan harga termurah itu sudah menjadi suatu keharusan saat ini, demi bisa meng-cover kebutuhan dan keinginan yang lain… yang terus saja bertambah (atau sekedar meningkat ‘kasta’nya), seiring waktu.

Kebutuhan bertambah, Decision for buying berubah

Perubahan jaman yang semakin cepat ini benar-benar sudah mengubah tatanan hidup semua generasi sekaligus memunculkan kebutuhan-kebutuhan baru.

Kebutuhan berwisata, misalnya. Kebutuhan ini, hingga sekitar akhir dekade 90’an, masih banyak dimasukkan dalam kategori kebutuhan tersier. Dan seringnya, alasannya bukan karena keterbatasan dana. It was just not ‘a thing’ back then…

Kini, berwisata sudah meningkat ‘kasta’nya menjadi kebutuhan sekunder, atau bahkan primer, bagi sebagian besar kelompok, dari kelas ekonomi manapun.

Agenda berlibur keluarga minimal 1 tahun sekali itu sudah menjadi wajib. Ada yang bahkan memang menjadwalkan sampai 3 hingga 4 kali dalam 1 tahun.

Perubahan ini tidak hanya terjadi di ‘kelompok’ keluarga, corporate pun begitu. (Alhamdulillah! ;D)

Kelompok yang menyisihkan keuangannya untuk berlibur pun sudah tidak didominasi lagi dari kelompok keluarga dan kantor. Sekarang sudah banyak sekali individu-individu yang melabeli dirinya sebagai Solo Traveler.

Kita bisa dengan mudah melihat fenomena-fenomena (baru) di dunia pariwisata ini di Instagram, sejak beberapa tahun terakhir ini :)

Contoh lain lagi: Laptop. Hingga jaman awal saya masuk kuliah di awal dekade 2000’an dulu, memiliki 1 PC di rumah atau kos, numpang di warnet, atau meminjam komputer di lap kampus, sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kuliah dan hiburan. Kini, setiap mahasiswa/i tampaknya wajib memiliki 1 laptop pribadi. *Hehe, saat membuat tulisan ini, saya sedang berada di suatu tempat ngopi yang sedang dipenuhi oleh mahasiswa/mahasiswi yang sedang membuka laptopnya masing-masing di setiap meja.

Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang bisa kita ‘lihat’ dengan sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kita dulu tidak memerlukan hp, paket data, flashdisk, whatsapp, social media, dsb. Kita dulu juga tidak terlalu mementingkan asuransi, investasi, bahkan Go-jek.

Bahkan kebutuhan untuk nongkrong di cafe untuk mengerjakan tugas kuliah seperti yang sedang saya lihat saat ini pun, tergolong kebutuhan baru, yang tentunya akan memecah lagi wallet share dari para mahasiswa dan mahasiswi tersebut.

The bottom line is, teknologi berkembang, ragam produk/jasa bertambah, ‘menjual’ produk/jasa menjadi mudah, ragam produk/jasa makin bertambah, mempengaruhi gaya hidup, kebutuhan hidup bertambah, ragam produk/jasa bertambah lagi, hingga akhirnya, mempengaruhi faktor-faktor yang menyebabkan kita memutuskan untuk ‘memilih’ dan membeli.

Dan faktor-faktor ini, bukan lagi merek, penyebab utamanya.

Rowing harder doesn’t help if the boat is headed in the wrong direction.
— Kenichi Ohmae

– – – 00 – – –

*Bersambung ke: Brand awareness ≠ Sales