Youth = Change Agents that matters

Dalam Another Point of View (1): Dunia dengan Berjuta Pilihan, saya bercerita bahwa sejak sekitar tahun 2000’an, pertumbuhan jumlah musisi dan lagu baru menjadi too overwhelmed bagi saya. Sebenarnya bukan hanya karena itu penyebabnya. Faktor lain adalah karena, menurut saya, lagu-lagu yang muncul sejak pertengahan tahun 2000’an kebanyakan tidak lagi cocok dengan telinga (dan hati) saya.

Bagi saya, banyak dari lagu-lagu tersebut yang benar-benar terbuat dengan filosofi ‘asal enak didengar dan dinyanyikan’ saja. Dengan chord-chord yang terlalu sederhana dan lirik yang (menurut saya dulu) seperti tidak dipikir dalam-dalam saat membuatnya. Banyak orang di generasi saya berpikir hal yang sama tentang ini.

*Catatan penting: Saat saya menulis ini, saya bersyukur sudah banyak menemukan musisi-musisi generasi baru di Indonesia yang sudah kembali membuat lagu yang ‘bagus’, dari sisi musik dan lirik, menurut saya. I think, industri musik Indonesia punya masa depan yang cerah nanti :)

But wait, kenapa saya harus ‘merendahkan’ hal tersebut? Generasi muda sekarang menyukainya. Bukankah itu yang penting? Generasi muda adalah generasi yang paling konsumtif dalam kacamata industri. Mereka inilah yang harus kita pikirkan. Membaca buku hasil riset tentang “Generasi Phi” dari Dr. Muhammad Faisal sudah membuka mata saya tentang cara memandang hal ini. *Btw, this is a good book. Sempatkan membeli atau sekedar membacanya ;)

Generasi muda (Youth), dari dulu selalu menjadi trend-setter untuk banyak hal. Mereka juga merupakan decision makers, sekaligus change-drivers yang selalu mempengaruhi jalannya trend dalam suatu industri. Jadi pola perilaku generasi muda ini justru wajib sifatnya kita pelajari, kalau kita mau terus berkiprah, sustainably :)

Youth are trendsetters.
Youth are the Now Generation customers who demand instant everything.
When it comes to trends, they are very agile. They follow trends so fast that marketers often fail to keep up.
But the upside is that this allows marketers to quickly pinpoint trends that will influence the market in the near future.
Marketing 4.0 – Hermawan Kartajaya

Mereka tidak memerlukan lagu dengan lirik yang dalam.

Kalau kita melihat penyanyi-penyanyi atau band-band jaman dulu tampil live, dengan kemampuan dan kematangan yang mereka miliki, mereka seringnya tampil nyaris tanpa cela. Kita bisa menemukan hal yang berbeda bila kita melihat penyanyi atau band-band jaman sekarang tampil live, bila kita jeli melihat dan mendengar. Semuanya bersifat mostly ya. Saya tidak ingin men-generalisir semuanya.

But then again, pasar mereka tidak membutuhkan ‘kesempurnaan’ itu. Hal ini, sebagai pengusaha, yang harus kita pahami secara mendalam. Dunia sudah berubah, dengan cepat. Termasuk selera dan perilaku konsumsi para penghuninya.

Yang sering saya dan generasi saya (umumnya) lupa untuk menyadari,
generasi muda-nya itu sudah bukan lagi kami. Bukan kami lagi yang superior dan dominan dalam mempengaruhi trend demand di suatu industri…
— Arya Dhiratara

– – – 00 – – –

Fokus di Konten = Fokus pada ‘kepuasan’ dasar

Dalam teori Diferensiasi, ada 2 istilah yang menjadi dasar dalam menentukan area diferensiasi suatu produk/jasa: Konten dan Konteks.

Konten adalah what we’re offering. Konteks adalah how we offer it. Mudahnya, konten adalah apa yang kita jual. Konteks adalah kemasan, atau bagaimana kita mengemas dan menawarkan apa yang kita jual.

Waktu saya kecil, saya lupa dalam kesempatan apa, bapak saya pernah bilang: “kalau dikasih 7 sudah cukup, kenapa harus kasih 9 atau 10?”. Hal itu sepertinya bisa jadi ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini.

Akhir-akhir ini, anak saya sedang hobi-hobinya main kartu. Saya mengajarkan prinsip yang kurang lebih sama: “kalau ngeluarin kartu 7 saja udah cukup untuk menang, kenapa harus ngeluarin raja? raja atau As-nya disimpan aja untuk dikeluarin terakhir-terakhir.”. Menyimpan raja atau As ini bisa diartikan dengan menyimpan ‘bahan bakar’ atau resource, agar kita sebagai perusahaan bisa terus ‘berkiprah’.

Saat ini, kita tidak perlu lagi memberikan ‘kesempurnaan’ yang absolut untuk produk/jasa kita. Karakter pasar saat ini mayoritas tidak mencari lagi nilai 9-10. Mereka sudah cukup puas asalkan itu sudah memenuhi kebutuhannya. Nilai 7, dalam tulisan ini adalah ilustrasi atas ‘kepuasan’ dasar tersebut. Karena peningkatan kepedulian terhadap wallet share, nilai 9-10 sudah menjadi sangat tersier bagi mayoritas pasar saat ini. Selisih atau sisa-nya bisa ‘dikonsumsikan’ untuk kebutuhan-kebutuhan yang lain.

Di Another Point of View (2): Brand awareness ≠ Sales, saya juga bercerita bahwa Top of mind merek yang ada di kepala saya ketika mencari tiket pesawat adalah di perusahaan berlogo burung. Salah satu alasan saya menyukainya adalah karena saya sangat suka dengan tampilan aplikasinya yang menurut saya sangat ‘humble‘ dan humanis.

Tapi akhir-akhir ini, saya sering hanya menggunakan aplikasinya untuk ‘mencari’. Saat sudah mencapai tahap membeli, saya membanding-bandingkan harga yang termurah dari penyedia jasa layanan tiket yang lain dulu untuk membeli tiket tersebut. Dan itu akhirnya sering tidak dari perusahaan berlogo burung tersebut, yang bahkan menurut saya interface aplikasinya tidak humanis dan user friendly. Interface aplikasi, dalam hal ini, adalah konteks.

Sekali lagi, konten dan ‘kepuasan’ dasar lah yang penting saat ini. Bukan konteks. Menurut saya. Wong ya konsumen saat ini sudah sangat peduli pada wallet share nya :)

Fokus di konten dalam kaitannya dengan contoh di atas adalah, dari semua aplikasi (perusahaan) yang saya banding-bandingkan, semuanya sadar untuk memberikan ‘kepuasan’ dasar: kemudahan mencari, kemudahan membeli, dan keamanan bertransaksi.

Ketika konsumen atau target pasar kita sudah sangat cukup dengan nilai 7, sempurnalah di nilai 7 tersebut. Kerahkan semua resource kita di nilai 7 itu.

Fokus di konten, jangan memasuki industri dengan produk yang terlalu dominan ‘menjual’ konteks. Kecuali bila kita 100% yakin bahwa konteks yang kita tawarkan memiliki diferensiasi yang absolut, dan yang terpenting… pasarnya ada, relevan, reachable, dan scalable.

Di Jogja, dan saya yakin kota-kota besar lain juga, banyak sekali pemain-pemain baru di industri kuliner yang ‘banyak bermain’ di konteks. Tingkat persaingannya sudah sama tingginya dengan pemain-pemain yang ‘hanya’ bermain di konten. Ketika tingkat persaingan sudah sama-sama tinggi, ‘bahan bakar’ kita bisa bertahan lebih lama bila kita lebih banyak fokus di konten dan nilai 7 tadi, bukan?

Ingat, konten (dan konteks) yang kita tawarkan harus merupakan solusi atas kebutuhan konsumen (jadikan solusi ini sebagai positioning, dan terjemahkan ke dalam tagline). Konsumen yang mana? Nah, ini yang harus kita sesuaikan dengan pasar yang kita tuju. Balik lagi ke paragraf tentang consumer-oriented dan product-oriented dalam Another Point of View (2): We Are The Enterprise.

– – – 00 – – –