Bagi saya, menganggap penerbitan perppu untuk penutupan ormas itu melanggar demokrasi dan hak asasi, itu sama saja dengan membiarkan bom waktu untuk meledak dan menghancurkan negara ini.

Melanggar demokrasi? Demokrasi yang kelewatan, bisa menghancurkan. Kita semua tentu tau tentang ini :)

Sejak lahir, sebesar apapun kebebasan yang diberikan dan diajarkan oleh orang tua kita, selalu ada koridor yang memang dibuat untuk menjaga supaya kita dan keluarga yang dibangun oleh orang tua kita tidak salah arah.

Kadang, orang tua kita pun harus bersikap tegas, tanpa bisa ditawar, supaya kita tidak terlanjur hancur karena berjalan melewati batas ke arah yang salah.

Saat masih anak-anak, hingga remaja, orang tua kita tentu memiliki lebih banyak pengetahuan daripada kita.
Mereka memiliki jam hidup lebih lama dan bekerja lebih keras, wajar bila mereka lebih tau banyak hal dibandingkan kita.
Sering, semuanya terasa tidak cocok dengan pemahaman atau keinginan kita saat itu.

Mereka yang lebih tau.

Mereka lebih tau apa yang sedang terjadi. mereka juga lebih tau apa yang bisa dan mungkin terjadi. Yakinlah tentang itu.

Dulu kita pasti menentang. Saya juga :)

Sekarang? Saya mendidik anak saya dengan pandangan dan sikap yang kurang lebih sama.
Sering, anak saya marah dan bahkan menangis ketika tidak mendapatkan keinginannya. Tapi saya percaya diri bahwa saya dan ibunya tau yang terbaik buat dia.

Melanggar hak asasi? Kalo sudah terlanjur, nanti kita bakal bisa lihat dengan jelas kalo ormas-ormas radikal itu juga tidak memikirkan hak asasi manusia, dari sejak merencanakan sampai melakukan. Mau, seperti itu? :)

Sudah banyak hal yang terjadi, bahkan ada video anak-anak yang keliling sambil teriak “bunuh ####!”, …..
masa kita masih bilang pemerintahan kita ini rezim paranoid dan represif? :)

Di lingkungan saya sendiri, yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, sudah sampai ada playgroup/tk yg menanamkan dasar pikiran yg sama ama video itu ke anak-anak didiknya. Ada teman saya yang anaknya sekarang dijauhi teman-temannya hanya karena dia bukan islam.

Ini anak-anak lho. Ngga kangen ama suasana waktu kita kecil yang bisa punya temen siapa aja dan main bareng tanpa mikir latar belakang?

Mungkin ada yang menutup mata atau mungkin kebetulan memang tidak mengalami hal yang sama di lingkungannya.
Tapi hal-hal di atas sudah terbukti terjadi.
Sudah banyak orang yang mengalami hal yang sama, berarti saya tidak delusional, bukan? ;)

Ketika fakta-faktanya ada, walau mungkin tidak di lingkungan kita, apa kita bisa yakin, bisa tetap steril dari itu?
Pergerakan ormas-ormas beragama yang radikal itu dulu juga banyak yang tidak terdeteksi. Tapi ketika video-teriak-bunuh itu muncul, kita bisa melihat kalau mereka sudah mulai berhasil. Sadly.

Jujur saya takut dengan masa depan lingkungan yang akan didiami anak-anak saya nanti kalo atas nama demokrasi dan hak asasi, kita membiarkan negara kita diam-diam (akhir-akhir ini mereka terus terang sih) dirongrong oleh kepentingan-kepentingan yang bisa bikin negera kita (makin) kacau dan hancur.

Fungsi pemerintah adalah memastikan keadilan sosial bagi bangsa dan negara. Memang yang adil itu tidak selalu bisa memenuhi keinginan, kepentingan, atau bahkan sekedar pendapat kita.
Yang adil, tidak selalu tampak adil kalau dilihat dari kacamata individu.

Orang tua saya dulu juga gitu :)
Kadang mereka bahkan tidak mengajak saya berdialog dalam memutuskan sesuatu, demi memastikan seluruh keluarga berjalan selamat sampai tujuan: bahagia di dunia dan di akhirat.

Mereka sangat berhak melakukan itu, karena mereka berpikir dalam kerangka helicopter view yang lebih holistik, dan (bahkan) sering bekerja lebih keras tanpa kita ketahui demi kontinuitas kebahagiaan kita.

 

Jangan sampai terlanjur :)

*tulisan ini adalah celoteh saya di facebook. bisa di lihat di sini.