Merry Christmas, Everyone !

Waktu kecil, saya disekolahkan di sekolah Katolik St. Carolus oleh ibu-bapak saya.

Setiap hari Senin, saya ikut masuk Gereja, menemani teman2 menjalani Misa rutin sekolah.
Doa-doa seperti Bapa-Kami, Salam Maria, dsb saya hafal sekali. Bahkan yang versi bahasa Inggris :)

Saya menikmati sekali masa-masa itu. What I like the most from those life moments: My Friends. Asik dan tulus dalam berteman.

Kenapa ibu-bapak saya tidak takut saya terpengaruh atau bahkan tertarik mengikuti kepercayaan yang dianut teman-teman saya yang 99% nasrani itu?
Bahkan ibu-bapak saya tidak meminta dispensasi ke sekolah agar saya tidak mengikuti Misa mingguan yang selalu saya ikuti dengan suka-cita.

Saya jawab dengan pertanyaan lagi: kenapa kita harus merasa ‘insecure‘ dengan agama kita? :)

Setiap hari minggu, 2 minggu sekali atau 1 bulan sekali, saya ikut pengajian di pesantren yang kebetulan bapak saya ikut menjadi salah satu pengurus di sana: Pesantren Al-Fitrah, di Kedinding, Surabaya.

Saya juga menikmati sekali masa-masa itu. Pertama kalinya saya mengenal dan menggunakan langsung istilah Kyai (Yayi biasanya nyebutnya), Habib, Ustad, adalah di pesantren itu. “di Pondok”, kalau bapak saya biasa menyebut.

Bersyukur sekali, saya bertemu dengan lingkungan itu. Lingkungan yang dipimpin oleh seseorang yang memiliki kharisma luar biasa besar, namun tetap ‘menunduk’.

Dengan kharisma dan massa yg besar seperti itu, tidak pernah satu kalipun beliau merasa lebih tinggi dan lebih baik dari yg lain. Di setiap pengajiannya pun, kalimatnya selalu diawali dengan ‘kulo kalih sampean’, instead of ‘kalian itu’.

Saya tidak ‘berani’ dan tidak ingin menyebut nama beliau (alm) di sini, googling saja tentang pesantren tersebut, pasti tersebutkan namanya. Satu-satunya orang selain ibu saya yang bisa membuat saya menangis karena merasa ‘kecil’, saat berdoa.

And everything was fine, back then :)

Saya belajar dari semuanya. Saya mengambil setiap momen yang ada, di semua sisi kehidupan saya waktu itu untuk bekal saya di masa depan.

Saya tidak pernah menduga, kalau masa depan yang saya alami sekarang ini, jauh berbeda dengan apa yang saya alami dan bayangkan dulu.

Jujur, saya khawatir dengan lingkungan yang akan didiami oleh anak2 saya nanti, saat mereka sudah mulai besar.

Saya sangat mendambakan mereka bisa seperti saya dan kakak saya waktu kecil dulu, bebas berteman dan asik bersahabat dengan siapa saja, tanpa perlu memandang agamanya.

Agama itu milik pribadi. Itu bukan suatu identitas yang perlu ditonjolkan dan dipertontonkan.

Itu kenapa saya tidak pernah sekalipun ‘ngomong agama’ di media sosial, kecuali untuk perayaan dan memberi ucapan selamat :)

Yang mengaku islam, ulama, ustad, dsb, tapi perilakunya berbeda jauh dengan apa yang saya temui dulu sewaktu kecil.

Entah apa yang sebenarnya mereka kejar. Entah seberapa dalam mereka belajar.

Saya bukan penghafal Qur’an. Bukan juga orang yang fasih dengan Hadist. Tapi saya meyakini satu hal yang sangat mendasar: apa yang mereka teriak-teriakkan itu bukan Islam yang saya kenal :)

Sedikit saran dari saya, belajar lah agama dari orang-orang yang jauh dari hingar-bingar media, apapun itu.

To all my friends, specially to all my St. Carolus friends, I wish you a very merry Xmas! Salam hormat untuk keluarga :)

Have yourself a merry little christmas. Salah satu lagu natal favorit saya.
Selalu saya putar di saat-saat seperti ini, sambil mengenang keceriaan teman-teman berseragam celana pendek abu-abu dan rok kotak-kotak bewarna merah-hitam :)

Lauren Daigle – Have Yourself A Merry Little Christmas

Actually, this is my favourite version of this song :)

*tulisan ini adalah celoteh saya di facebook saat natal tahun 2017 kemarin. ditulis di tengah situasi di mana beberapa kelompok berlabel agama mayoritas di negari ini sedang ‘merasa sangat superior’ dengan agama-nya. bisa di lihat di sini.

Mari Berlibur di Negeri Sendiri

Judul di atas adalah penggalan atau versi singkat dari tagline @LiburanJogja yang hingga kini tidak pernah berubah: “Karena berlibur itu, sangat bisa dilakukan di negeri sendiri”.

Tagline, sekaligus effort berbentuk campaign untuk menyadarkan banyak orang, terutama generasi muda, agar lebih memiliki ‘hasrat’ untuk menjelajahi negerinya sendiri dulu, instead of lebih bangga berlibur ke luar negeri.

Di Sulawesi, kita punya Bunaken dan Wakatobi. Di Nusa Tenggara, kita punya Pulau Komodo, Alor, Lembata, dsb. Kita juga punya Gili Trawangan, Derawan, Belitung, Samosir, Danau Toba, Raja Ampat, Nias, dsb. Di Jawa, ada Bromo, Dieng, Karimun Jawa, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Bukannya tidak boleh liburan ke luar negeri. Sangat boleh ;)

The question is, sudahkah kita menjelajahi dan menikmati seluruh potensi pariwisata yang ada di negeri kita sendiri ini? :)

Indonesia kita ini kaya sekali akan potensi wisata lho. Meski memang harus diakui belum semuanya terkelola dengan baik. Indonesia itu indah, dari ujung ke ujung, bila kita mau menjelajahinya. Sayang, kita sering lupa tentang itu :)

Tiket pesawat untuk menjelajah pulau lebih mahal dibandingkan ke luar negeri? Memang, tapi terus kapan murahnya kalau kita tidak memulainya? :)

Ingat, pembentukan harga dari tiket pesawat selalu memakai rumus dasar ini: Cost per Miles : Avarage (atau Potential Avarage) Number of Passengers. Jadi memang tidak akan jadi murah kalau bukan kita sendiri yang tidak memulainya.

Menjelajahi negeri Indonesia ini, dari Sabang sampai Merauke, seringnya memang lebih mahal dibandingkan bila kita pergi berlibur ke luar negeri. Harga tiket pesawat untuk berlibur ke Pulau Komodo, Alor, Lembata dan lain sebagainya tadi, sering lebih mahal daripada harga tiket ke Singapura. Tapi bila bukan kita sendiri yang memulainya, harga tiket pesawat untuk ke tempat-tempat tadi tidak akan kunjung turun kan? :)

wonderful indonesia

Kita jelajahi Indonesia sebanyak mungkin dulu, baru kemudian pergi ke luar negeri sambil cerita tentang keindahan negeri ini di sana.

Kita jelajahi negeri Indonesia kita ini sebanyak mungkin dulu, baru kemudian pergi ke luar negeri sambil cerita tentang keindahan negeri ini di sana. I really think that is the route (or steps?) that we should take :)

Mungkin ada baiknya juga kalau Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif lebih mengarahkan fokusnya mengejar pasar domestik dulu untuk lebih banyak mengkonsumsi semua potensi wisata di negerinya sendiri.

Ada baiknya juga, kampanye Wonderful Indonesia milik negeri ini diarahkan (terlebih dulu) ke masyarakat Indonesia sendiri. Dengan insentif kebijakan-kebijakan strategis tertentu, saya optimis itu bisa bikin masyarakat Indonesia untuk lebih sering mencoba berlibur di negerinya sendiri kok :)

Lebih baik menahan uang kita tetap berada di negara sendiri kan daripada mengeluarkan investasi besar untuk mengejar devisa dari WNA?

Tell me, which one is more effective and efficient, and wise? Terutama untuk jangka panjang.

Yang paling sederhana, dengan begitu, nantinya kita bisa punya 77% (sekedar ambil angka) dari seluruh masyarakat Indonesia yang siap jadi PR dan Marketers untuk menjual dan mempromosikan pariwisata negeri ini secara swadaya. Betul ngga? ;)

Indonesia kita ini indah. Dan hanya bisa terpelihara dengan baik bila kita mau mulai menjelajahinya. Jadi, mari berlibur di negeri sendiri ;)

JazzCoffee

A place I called Home.

Bersyukur sekali saya dulu memberanikan diri untuk masuk dan mencoba hang-out ke tempat ini; Jazz Coffee di daerah Kotabaru, Jogja.

I think, belum pernah lagi ada coffee house seperti ini… At least, not around here.
Bahkan sampai sekarang. (Atau apalagi sekarang? ;D)

Semua pelanggan bisa saling kenal.
Jadi teman, sahabat, dan akhirnya seperti keluarga.
Sehari bisa 3 kali mampir.
Ngobrol sana-sini.
Pindah duduk ke sana ke sini.
Bahkan numpang tidur.

Karena semua saling kenal.
Dan sampai sekarang, masih saling merindukan.

Big Thanks to Tante Anik Lestari (the owner of Jazz Coffee) yang sudah membuat semuanya terjadi.

Sehat, sukses, dan bahagia semua ya guys, wherever you are now. Doa terbaik selalu buat semuanya.

 

Thanks for Everyone for the Pictures.

 

Thanks to Mba Jajoek for sharing this.

A place and friends to rembember

Jangan sampai terlanjur

Bagi saya, menganggap penerbitan perppu untuk penutupan ormas itu melanggar demokrasi dan hak asasi, itu sama saja dengan membiarkan bom waktu untuk meledak dan menghancurkan negara ini.

Melanggar demokrasi? Demokrasi yang kelewatan, bisa menghancurkan. Kita semua tentu tau tentang ini :)

Sejak lahir, sebesar apapun kebebasan yang diberikan dan diajarkan oleh orang tua kita, selalu ada koridor yang memang dibuat untuk menjaga supaya kita dan keluarga yang dibangun oleh orang tua kita tidak salah arah.

Kadang, orang tua kita pun harus bersikap tegas, tanpa bisa ditawar, supaya kita tidak terlanjur hancur karena berjalan melewati batas ke arah yang salah.

Saat masih anak-anak, hingga remaja, orang tua kita tentu memiliki lebih banyak pengetahuan daripada kita.
Mereka memiliki jam hidup lebih lama dan bekerja lebih keras, wajar bila mereka lebih tau banyak hal dibandingkan kita.
Sering, semuanya terasa tidak cocok dengan pemahaman atau keinginan kita saat itu.

Mereka yang lebih tau.

Mereka lebih tau apa yang sedang terjadi. mereka juga lebih tau apa yang bisa dan mungkin terjadi. Yakinlah tentang itu.

Dulu kita pasti menentang. Saya juga :)

Sekarang? Saya mendidik anak saya dengan pandangan dan sikap yang kurang lebih sama.
Sering, anak saya marah dan bahkan menangis ketika tidak mendapatkan keinginannya. Tapi saya percaya diri bahwa saya dan ibunya tau yang terbaik buat dia.

Melanggar hak asasi? Kalo sudah terlanjur, nanti kita bakal bisa lihat dengan jelas kalo ormas-ormas radikal itu juga tidak memikirkan hak asasi manusia, dari sejak merencanakan sampai melakukan. Mau, seperti itu? :)

Sudah banyak hal yang terjadi, bahkan ada video anak-anak yang keliling sambil teriak “bunuh ####!”, …..
masa kita masih bilang pemerintahan kita ini rezim paranoid dan represif? :)

Di lingkungan saya sendiri, yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, sudah sampai ada playgroup/tk yg menanamkan dasar pikiran yg sama ama video itu ke anak-anak didiknya. Ada teman saya yang anaknya sekarang dijauhi teman-temannya hanya karena dia bukan islam.

Ini anak-anak lho. Ngga kangen ama suasana waktu kita kecil yang bisa punya temen siapa aja dan main bareng tanpa mikir latar belakang?

Mungkin ada yang menutup mata atau mungkin kebetulan memang tidak mengalami hal yang sama di lingkungannya.
Tapi hal-hal di atas sudah terbukti terjadi.
Sudah banyak orang yang mengalami hal yang sama, berarti saya tidak delusional, bukan? ;)

Ketika fakta-faktanya ada, walau mungkin tidak di lingkungan kita, apa kita bisa yakin, bisa tetap steril dari itu?
Pergerakan ormas-ormas beragama yang radikal itu dulu juga banyak yang tidak terdeteksi. Tapi ketika video-teriak-bunuh itu muncul, kita bisa melihat kalau mereka sudah mulai berhasil. Sadly.

Jujur saya takut dengan masa depan lingkungan yang akan didiami anak-anak saya nanti kalo atas nama demokrasi dan hak asasi, kita membiarkan negara kita diam-diam (akhir-akhir ini mereka terus terang sih) dirongrong oleh kepentingan-kepentingan yang bisa bikin negera kita (makin) kacau dan hancur.

Fungsi pemerintah adalah memastikan keadilan sosial bagi bangsa dan negara. Memang yang adil itu tidak selalu bisa memenuhi keinginan, kepentingan, atau bahkan sekedar pendapat kita.
Yang adil, tidak selalu tampak adil kalau dilihat dari kacamata individu.

Orang tua saya dulu juga gitu :)
Kadang mereka bahkan tidak mengajak saya berdialog dalam memutuskan sesuatu, demi memastikan seluruh keluarga berjalan selamat sampai tujuan: bahagia di dunia dan di akhirat.

Mereka sangat berhak melakukan itu, karena mereka berpikir dalam kerangka helicopter view yang lebih holistik, dan (bahkan) sering bekerja lebih keras tanpa kita ketahui demi kontinuitas kebahagiaan kita.

 

Jangan sampai terlanjur :)

*tulisan ini adalah celoteh saya di facebook. bisa di lihat di sini.

Pada tempatnya

I just want our kids, nephews, grandkids, great grandkids, dan seluruh keturunan kita semua nanti, hidup di Indonesia yg nyaman untuk ditinggali dan membanggakan untuk dilihat.

“Mau dakwah? Jangan di restoran, kecuali kita booking satu gedung restorannya.

Mau cari muka ke Tuhan? Beliau bahkan minta kita untuk menjaga hubungan antar manusia, sama tinggi kadarnya dengan hubungan antara kita dengan beliau.

Kita memang punya hak untuk berpikir dan berbicara tentang apapun. Tapi kita punya kewajiban yg lebih besar untuk selalu menjaga supaya dunia ini tetap indah.”

..

Dunia maya ini bukan kamar kecil, loteng, atau garasi kita di rumah. Ini seperti restoran besar, yg walaupun mungkin ada sekat antar mejanya, semua obrolan kita tetap bisa didengarkan oleh pengunjung meja lain.

Dunia maya sering tidak menunjukkan kerendahan hatinya, untuk sekedar berpikir lebih panjang tentang sebab-akibat.

Kenapa banyak yg tampil berbeda di dunia nyata dan dunia maya?

Hanya segelintir orang yg tampak terus berusaha menciptakan apa yg dilakukan oleb Roberto Benigni untuk anaknya dalam film Life is Beautiful di dunia maya ini.

What if we lose? What will happen to this country?

Kehidupan seperti apa yg akan dihadapi oleh anak-anak, dan keponakan-keponakan saya, esok, ketika di dunia maya kini banyak yg menyebarkan kedengkian dan ketinggian hati?

Dunia maya ini bukan kamar kecil, loteng, atau garasi kita di rumah. Ini seperti restoran besar, yg walaupun mungkin ada sekat antar mejanya, semua obrolan kita tetap bisa didengarkan oleh pengunjung meja lain.

Saya pribadi tidak pernah suka ngobrol tentang agama di dunia maya. Kecuali tentang perayaan, merayakan, memberi ucapan selamat, hari besar agama, agama manapun, seingat saya, saya tidak pernah posting sesuatu tentang itu. Karena saya sadar, potensi negatif yg bisa muncul.

Sedikit, frekuensi kecil, kadar rendah, positif, atau negatif, namun bila semua orang melakukan, percayalah, itu bisa menimbulkan potensi konflik. Ketika banyak orang melakukannya, can you imagine what will happen?

Kita bisa tidak peduli. Sangat mudah dan menyenangkan rasanya untuk tidak peduli.

Banyak yg tidak peduli dengan resiko-resikonya.

Banyak yg merasa, merasa bisa posting apapun yg dimau, karena itu akun pribadinya sendiri.

Silahkan, suka atau tidak, sadar atau tidak, anda ikut memiliki andil bila bangsa ini akhirnya memiliki konflik besar karena agama (dan politik).

Makin ke sini, makin banyak yg tampak memasang mental siap perang dan memilih untuk menganak-tirikan kehidupan yg damai saat jari-jari, mata, pikiran dan hatinya, memasuki dunia maya.

Kita memang punya hak untuk berpikir dan berbicara tentang apapun. Tapi kita punya kewajiban yg lebih besar untuk selalu menjaga supaya dunia ini tetap indah.

Ini bukan garasi rumah kita, ini restoran.

Mau dakwah? Jangan di restoran, kecuali kita booking satu gedung restorannya.

Mau cari muka ke Tuhan? Ingat, beliau bahkan minta kita untuk menjaga hubungan antar manusia, sama tinggi kadarnya dengan hubungan antara kita dengan beliau.

Saya sendiri, kalau di akun-akun media sosial dunia maya ini lebih suka posting foto-foto sahabat baru saya, Panji Atmananda, yg sudah 3 taun terakhir ini jadi temen main setiap hari. Nanti kalo dia punya adik, posting fotonya pasti akan lebih sering lagi. Selain foto-foto, saya juga cukup hobi sharing video lagu, karena dari kelas 3 SD saya bercita-cita jadi Music Director di radio, dan tidak pernah kesampaian.

Ya, saya lebih suka posting hal-hal yg ‘remeh-temeh’ itu. Dan itu, percayalah, bukan karena I have nothing to say.

I just want our kids, nephews, grandkids, great grandkids, dan seluruh keturunan kita semua nanti, hidup di Indonesia yg nyaman untuk ditinggali dan membanggakan untuk dilihat.

Saya bersyukur dilahirkan, dibesarkan, dan dididik oleh orang tua dan keluarga besar yg mengajarkan saya untuk menjadi orang yang baik. Bukankah kita semua begitu? :)

 

*tulisan ini adalah celoteh saya di facebook bulan Oktober taun 2016 yang lalu. bisa di lihat di sini.

Karena berlibur itu, sangat bisa dilakukan di negeri sendiri

Kalimat itu adalah tagline @LiburanJogja yang sudah dipakai dari sejak awal berdirinya. Tagline, sekaligus kampanye yang ingin saya gunakan untuk menyadarkan banyak orang, terutama generasi muda, untuk lebih memiliki hasrat untuk berlibur di negerinya sendiri, instead of ke luar negeri.

wonderful indonesia

Ketika saya post tagline tersebut di akun twitter @LiburanJogja, banyak yang menunjukkan semangat tanda setuju, namun banyak juga yang resisten, intinya lebih memiliki preferensi (dan berhasrat) untuk berlibur ke luar negeri.

Bukannya tidak boleh. Sangat boleh kok :)

Tapi kalian sudah menjelajahi dan menikmati seluruh potensi pariwisata Indonesia belum? :)

Kita jelajahi Indonesia sebanyak mungkin dulu, baru kemudian pergi ke luar negeri sambil cerita tentang keindahan negeri ini di sana.

Negeri kita ini kaya sekali akan potensi wisata lho, walaupun belum semua terkelola dengan baik. Dari ujung ke ujung, Indonesia itu indah, bila kita mau menjelajahinya. Sayangnya, belum semuanya sadar akan hal tersebut :)

Tiket pesawat lebih mahal? Trus kapan murahnya kalau kita tidak memulainya? :)
Ingat, pembentukan harga tiket pesawat selalu memakai rumus dasar ini: Cost per Miles : Avarage (atau Potential Avarage) Number of Passengers. Jadi memang tidak akan jadi murah, bila kita tidak memulainya.

Di Nusa Tenggara ada Pulau Komodo, Alor, Lembata, dsb. Di Sulawesi ada Bunaken dan Wakatobi. Kita juga punya Gili Trawangan, Derawan, Belitung, Samosir, Danau Toba, Raja Ampat, Nias, dsb. Di Jawa, kita punya Dieng, Bromo, Karimun Jawa, Jatim Park 1-3, dan lain sebagainya, dan tentunya juga, semua obyek wisata yang menarik di Jogja ;)

wonderful indonesia

Jogja aja, bagi saya, ngga habis-habis rasanya, tempat-tempat menarik yang bisa ditemuin kalo kita mau menjelajah. *Sayangnya, makin ke sini, kondisi kotanya makin kurang mendukung untuk pariwisata karena kebijakan-kebijakan yang ada.

Dan, pssst, sedikit bocoran, saya dan partner saya, kalau Tuhan mengijinkan, bakal bikin wisata Balon Udara di kawasan Borobudur :) Ngga perlu ke Turki untuk menikmati sensasi naik Balon Udara. *Doain bisa terwujud yah.

Menjelajahi Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, seringnya lebih mahal daripada bila kita ke luar negeri. Harga tiket pesawat untuk berlibur ke Pulau Komodo, Alor, dan lain sebagainya, sering lebih mahal daripada harga tiket ke Singapura. Tapi bila bukan kita yang memulainya, tiket ke pesawat untuk ke Pulau Komodo tidak akan kunjung turun kan? :)

Kita jelajahi Indonesia sebanyak mungkin dulu, baru kemudian pergi ke luar negeri sambil cerita tentang keindahan negeri ini di sana. That’s the route (or steps) that we should take :)

Mungkin Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ada baiknya juga lebih mengarahkan fokus untuk mengejar pasar domestik dulu untuk lebih banyak mengkonsumsi liburan di negerinya sendiri. Ada baiknya juga, kampanye Wonderful Indonesia milik negeri ini diarahkan (terlebih dahulu) ke masyarakatnya sendiri. Dengan insentif kebijakan-kebijakan tertentu yang strategis, saya optimis itu bisa bikin orang-orang Indonesia sendiri untuk mencoba berlibur di negerinya sendiri kok :)

Lebih baik menahan uang kita tetap di negara sendiri kan daripada mengejar devisa dari WNA?

Tell me, which one is more effective and efficient, and wise? Terutama untuk jangka panjang. Paling sederhana, dengan ini, nantinya kita akan punya (sekedar ambil angka) 77% dari seluruh masyarakat Indonesia yang siap jadi PR untuk Pariwisata negeri ini secara swadaya. Betul ngga? :)

Indonesia ini indah kok, bila kita mau menjelajahinya. Mari berlibur di negeri sendiri :)

Borobudur Village Cycling @LiburanJogja
 

Nyetir Peduli

Makin hari, jalanan di kota yang terlanjur saya cintai ini makin padat. Sayangnya kepadatan ini diikuti dengan perilaku berkendara yang semakin terasa individualisme-nya. Pasti pernah kan, ngerasain:

  • Ada kendaraan yang berhenti atau belok seenaknya tanpa prolog.
  • Ada yang nyetir ugal-ugalan tanpa memikirkan pengguna jalan yang lain.
  • Ada mobil yang nyetir pelan, tapi mengambil dan mendominasi jalur kanan jalan.
  • Banyak yang mengambil jalur yang tidak seharusnya (saya sering melihat banyak pengguna motor yang menunggu lampu merah di jalur milik lawan arahnya, sehingga menambah kemacetan).
  • Banyak yang terus nyelonong ketika ada kendaraan lain yang sudah antri untuk belok atau putar balik.
  • Ada yang parkir seenaknya demi jalan tidak jauh ke tempat yang dia tuju, tapi bikin macet jalan.
  • Susah menyeberang jalan.
  • dsb.

Yep, kalau mau perhatiin dan ngeluangin waktu untuk menganalisa, sekarang ini, baik pengguna mobil ataupun sepeda motor semakin “individual” dalam aktivitas berkendaranya. Banyak yang tidak memikirkan bahwa keputusan-keputusan individualnya itu bisa memiliki efek panjang dan bisa juga merugikan pengguna jalan yang lain.

Sayangnya, banyak yang tidak sadar bahwa hati-hati di jalan itu yang terpenting bukan untuk keselamatan diri kita sendiri, tapi keselematan pengguna jalan yang lain. Terlalu ‘bias’ standarnya bila itu hanya untuk keselamatan kita sendiri. Kita ngebut, ugal-ugalan, kalo emang jago nyetirnya, kita-nya mungkin memang bakal selamat dan aman-aman aja. Tapi orang lain yang kita lewatin? Belum tentu :)

Sadarkah kita bahwa dengan sekedar berjalan pelan saat lamput traffic light sedang menyala hijau itu berarti kita egois? Dengan berjalan pelan saat lampu hijau berarti kita tidak peduli dengan para pengendara mobil / motor di belakang kita yang mungkin sangat membutuhkan untuk bisa ikut lolos dalam lampu hijau saat itu.

Itu baru masalah nyetir di jalan lho, belum keputusan-keputusan dalam memarkir mobil / motornya di jalan.

Sering, saya mengalami ada mobil-mobil dan motor yang parkirnya “kurang peduli” saat mereka berhenti untuk berbelanja di suatu warung atau minimarket. Sering, pemilik mobil / motor tersebut tidak sadar (atau memang tidak peduli?) kalau keputusannya itu membuat jalanan terganggu. Antrian mobil dan motor di jalan bisa sampai panjang dan padat, dan si pemilik mobil / motor yang parkir tetap tidak sadar (atau memang tidak peduli) atas akibat dari keputusannya.

Kalau saya, ketika tampak lahan parkir sudah tampak penuh, sejak dulu saya selalu lebih memilih parkir agak jauh, sejauh mungkin yang tidak akan mengganggu lalu lintas jalan, lalu saya jalan kaki untuk ke warung atau minimarket tersebut. Lebih lega aja rasanya kalo aktivitas pribadi saya tidak mengganggu pengguna jalan lain. Dan sedikit berjalan kaki, it won’t hurt you, rite? :)

Mungkin judul tulisan ini perlu diganti jadi “Nyetir Peduli dan Parkir Peduli” yah? :D

Sering saya terpikir, harus ada tambahan mata pelajaran “Berlalu-lintas” di bangku SMA, dan diulangi kembali di waktu kuliah, supaya hal ini tidak makin berlarut. Kalo dibiarin terus menerus, bakal makin kritis / akut lho, kondisi lalu-lintas kita.

Saya menanti ada pihak-pihak yang mau diajak bareng, bikin kampanye “Nyetir Peduli” yang masif, supaya kita bisa mengurangi kekacauan dalam lalu-lintas kita.

Saya dulu pernah mengajak Dirlantas Polda DIY untuk memikirkan ini. Namun sampai sekarang belum ada respon aktif juga :)

Kalo ada yang mau, dan sama-sama peduli, yuk kita bikin kampanye bareng-bareng :) You can find my cell-number in this website.

 

 

Actions leads to one another. So think before you make decisions. Wisely.