Makin hari, jalanan di kota yang terlanjur saya cintai ini makin padat. Sayangnya kepadatan ini diikuti dengan perilaku berkendara yang semakin terasa individualisme-nya. Pasti pernah kan, ngerasain:

  • Ada kendaraan yang berhenti atau belok seenaknya tanpa prolog.
  • Ada yang nyetir ugal-ugalan tanpa¬†memikirkan pengguna jalan yang lain.
  • Ada mobil yang nyetir pelan, tapi mengambil dan mendominasi jalur kanan jalan.
  • Banyak yang mengambil jalur yang tidak seharusnya (saya sering melihat banyak pengguna motor yang menunggu lampu merah di jalur milik lawan arahnya, sehingga menambah kemacetan).
  • Banyak yang terus nyelonong ketika ada kendaraan lain yang sudah antri untuk belok atau putar balik.
  • Ada yang parkir seenaknya demi jalan tidak jauh ke tempat yang dia tuju, tapi bikin macet jalan.
  • Susah menyeberang jalan.
  • dsb.

Yep, kalau mau perhatiin dan ngeluangin waktu untuk menganalisa, sekarang ini, baik pengguna mobil ataupun sepeda motor semakin “individual” dalam aktivitas berkendaranya. Banyak yang tidak memikirkan bahwa keputusan-keputusan individualnya itu bisa memiliki efek panjang dan bisa juga merugikan pengguna jalan yang lain.

Sayangnya, banyak yang tidak sadar bahwa hati-hati di jalan itu yang terpenting bukan untuk keselamatan diri kita sendiri, tapi keselematan pengguna jalan yang lain. Terlalu ‘bias’ standarnya bila itu hanya untuk keselamatan kita sendiri. Kita ngebut, ugal-ugalan, kalo emang jago nyetirnya, kita-nya mungkin memang bakal selamat dan aman-aman aja. Tapi orang lain yang kita lewatin? Belum tentu :)

Sadarkah kita bahwa dengan sekedar berjalan pelan saat lamput traffic light sedang menyala hijau itu berarti kita egois? Dengan berjalan pelan saat lampu hijau berarti kita tidak peduli dengan para pengendara mobil / motor di belakang kita yang mungkin sangat membutuhkan untuk bisa ikut lolos dalam lampu hijau saat itu.

Itu baru masalah nyetir di jalan lho, belum keputusan-keputusan dalam memarkir mobil / motornya di jalan.

Sering, saya mengalami ada mobil-mobil dan motor yang parkirnya “kurang peduli” saat mereka berhenti untuk berbelanja di suatu warung atau minimarket. Sering, pemilik mobil / motor tersebut tidak sadar (atau memang tidak peduli?) kalau keputusannya itu membuat jalanan terganggu. Antrian mobil dan motor di jalan bisa sampai panjang dan padat, dan si pemilik mobil / motor yang parkir tetap tidak sadar (atau memang tidak peduli) atas akibat dari keputusannya.

Kalau saya, ketika tampak lahan parkir sudah tampak penuh, sejak dulu saya selalu lebih memilih parkir agak jauh, sejauh mungkin yang tidak akan mengganggu lalu lintas jalan, lalu saya jalan kaki untuk ke warung atau minimarket tersebut. Lebih lega aja rasanya kalo aktivitas pribadi saya tidak mengganggu pengguna jalan lain. Dan sedikit berjalan kaki, it won’t hurt you, rite? :)

Mungkin judul tulisan ini perlu diganti jadi “Nyetir Peduli dan Parkir Peduli” yah? :D

Sering saya terpikir, harus ada tambahan mata pelajaran “Berlalu-lintas” di bangku SMA, dan diulangi kembali di waktu kuliah, supaya hal ini tidak makin berlarut. Kalo dibiarin terus menerus, bakal makin kritis / akut lho, kondisi lalu-lintas kita.

Saya menanti ada pihak-pihak yang mau diajak bareng, bikin kampanye “Nyetir Peduli” yang masif, supaya kita bisa mengurangi kekacauan dalam lalu-lintas kita.

Saya dulu pernah mengajak Dirlantas Polda DIY untuk memikirkan ini. Namun sampai sekarang belum ada respon aktif juga :)

Kalo ada yang mau, dan sama-sama peduli, yuk kita bikin kampanye bareng-bareng :) You can find my cell-number in this website.

 

 

Actions leads to one another. So think before you make decisions. Wisely.