Business Canvas for Everyone

Berawal dari hasil menata ulang bisnis saya sendiri di bulan januari kemarin, mem-breakdown ulang semuanya hingga detail terkecil menggunakan Business Model Canvas, ada beberapa sahabat yang kemudian minta dibantu membuat business canvas juga untuk usahanya masing-masing.

Akhirnya, saya coba membuat semacam template, agar dapat membantu lebih banyak orang.

Dalam template ini, saya mencoba memberikan beberapa petunjuk untuk mengisi. Jadinya ini template-semi-modul :D

Semoga sudah cukup mudah dimengerti dan dapat memudahkan siapapun untuk membuat kanvas bagi bisnisnya.

Dari awal, saya sengaja dan memang berniat untuk tetap menyebarkan ini dalam format yang writable dan editable (dalam hal ini power-point), agar siapapun yang menggunakannya dapat langsung mengisi di file yang sama.

Saya juga sengaja memilih menggunakan font yang sangat standar, ‘arial black’ untuk judul dan ‘calibri’ untuk konten, agar sebisa mungkin tampilan / lay-out nya tidak berubah bila dibuka di tempat lain.

Enjoy! :)

The biggest benefit of documenting your plan is: it enables you to confront your own thoughts.
— Arya Dhiratara

Template Business Canvas for Everyone ini saya adaptasi dari template Business Model Canvas yang diusulkan pertama kali oleh Alexander Osterwalder dalam thesis PHD nya; Business Model Ontology.

Buat yang belum pernah mendengar, Business Model Canvas adalah strategic management dan lean startup template untuk mengembangkan dan mendokumentasikan model suatu bisnis.

Template ini sangat cocok untuk diterapkan pada situasi industri bisnis saat ini, yang terus mengalir dan berubah dengan sangat cepat. Instead of membuat business plan yang berlembar-lembar, Business Model Canvas ini menyederhanakan proses itu dengan mendetailkan hal-hal yang utama saja.

Kita jadi bisa memperpendek proses perencanaan, mempercepat proses eksekusinya, dan tentunya, memberikan fleksibilitas lebih untuk terus me-review dan meng-update business canvas kita, secara kontinu.

Saya sendiri berencana untuk terus meng-update business canvas saya secara periodik. Karena pasti ada temuan-temuan baru yang bisa dimasukkan saat mengeksekusi rencana-rencana yang ada di breakdown to do list yang saya buat.

Hope it helps!

PS:
Next project, saya akan coba membuat template khusus untuk Product Marketing Funnel (yang selalu saya gunakan beberapa tahun terakhir ini adalah AISAS Model milik DENTSU) supaya bisa memberikan penjabaran dan petunjuk yang lebih detail (dalam file di atas, karena memang statusnya additional, bagian ini mungkin masih kurang detail). Big Thanks buat Delly untuk idenya ;)

For everyone, kalau ada ide/butuh PPT for Business yang lain, request aja yah. Siapa tau bisa buatin ;D

Disclaimer:
Saya ngga jago. Hanya bisa sedikit, dan tau sedikit. I’m far from mastering it. Kalau ada yg salah dari pemahaman saya, mari diskusi ;)
Japri, komen, kasih feedback, input, bahkan cacian, I’m encouraging you to do that, semuanya pasti bisa membantu untuk membuat template-semi-modul ini jadi lebih baik. Iya, ini akan saya update terus ;)

So, your feedback or comment will be much appreciated. It will help me, on helping others :)

Update: Template khusus Marketing Funnel untuk bikin well-planned communication desain buat setiap produk yang kita punya, sudah saya buat dan upload di sini.

Another Point of View (6): ‘Bermain’ Diferensiasi di Konten

Diferensiasi

Di awal dekade 2000’an, Jack Trout membuka bukunya yang berjudul “Differentiate or Die“, dengan pernyataan: “Differentiating products today is more challenging than at any other time in history. When our earliest ancestors wondered, “What’s for dinner?” the answer was clear: It was whatever the neighbourhood could run down, kill and bring back to the cave. Red meat? White meat? There was only one choice; it was a simpler time.”

Sudah berjalan hampir 2 dekade sejak buku itu dipublikasikan. Kini, mendiang Jack Trout pasti akan mencetak sangat tebal kata-kata “it was a simpler time” bila sempat mencetak ulang bukunya yang dulu sangat populer itu.

Konsep Diferensiasi Produk ini sendiri pertama kali diusulkan oleh Edward Chamberlin dalam Theory of Monopolistic Competition (1933).

Diferensiasi, mudahnya, adalah segala sesuatu yang bisa membedakan produk/jasa kita dengan merek lain yang sejenis.

*not finish yet, working progress*

Another Point of View (5): Fokus di Konten, Bukan Konteks

Youth = Change Agents that matters

Dalam Another Point of View (1): Dunia dengan Berjuta Pilihan, saya bercerita bahwa sejak sekitar tahun 2000’an, pertumbuhan jumlah musisi dan lagu baru menjadi too overwhelmed bagi saya. Sebenarnya bukan hanya karena itu penyebabnya. Faktor lain adalah karena, menurut saya, lagu-lagu yang muncul sejak pertengahan tahun 2000’an kebanyakan tidak lagi cocok dengan telinga (dan hati) saya.

Bagi saya, banyak dari lagu-lagu tersebut yang benar-benar terbuat dengan filosofi ‘asal enak didengar dan dinyanyikan’ saja. Dengan chord-chord yang terlalu sederhana dan lirik yang (menurut saya dulu) seperti tidak dipikir dalam-dalam saat membuatnya. Banyak orang di generasi saya berpikir hal yang sama tentang ini.

*Catatan penting: Saat saya menulis ini, saya bersyukur sudah banyak menemukan musisi-musisi generasi baru di Indonesia yang sudah kembali membuat lagu yang ‘bagus’, dari sisi musik dan lirik, menurut saya. I think, industri musik Indonesia punya masa depan yang cerah nanti :)

But wait, kenapa saya harus ‘merendahkan’ hal tersebut? Generasi muda sekarang menyukainya. Bukankah itu yang penting? Generasi muda adalah generasi yang paling konsumtif dalam kacamata industri. Mereka inilah yang harus kita pikirkan. Membaca buku hasil riset tentang “Generasi Phi” dari Dr. Muhammad Faisal sudah membuka mata saya tentang cara memandang hal ini. *Btw, this is a good book. Sempatkan membeli atau sekedar membacanya ;)

Generasi muda (Youth), dari dulu selalu menjadi trend-setter untuk banyak hal. Mereka juga merupakan decision makers, sekaligus change-drivers yang selalu mempengaruhi jalannya trend dalam suatu industri. Jadi pola perilaku generasi muda ini justru wajib sifatnya kita pelajari, kalau kita mau terus berkiprah, sustainably :)

Youth are trendsetters.
Youth are the Now Generation customers who demand instant everything.
When it comes to trends, they are very agile. They follow trends so fast that marketers often fail to keep up.
But the upside is that this allows marketers to quickly pinpoint trends that will influence the market in the near future.
Marketing 4.0 – Hermawan Kartajaya

Mereka tidak memerlukan lagu dengan lirik yang dalam.

Kalau kita melihat penyanyi-penyanyi atau band-band jaman dulu tampil live, dengan kemampuan dan kematangan yang mereka miliki, mereka seringnya tampil nyaris tanpa cela. Kita bisa menemukan hal yang berbeda bila kita melihat penyanyi atau band-band jaman sekarang tampil live, bila kita jeli melihat dan mendengar. Semuanya bersifat mostly ya. Saya tidak ingin men-generalisir semuanya.

But then again, pasar mereka tidak membutuhkan ‘kesempurnaan’ itu. Hal ini, sebagai pengusaha, yang harus kita pahami secara mendalam. Dunia sudah berubah, dengan cepat. Termasuk selera dan perilaku konsumsi para penghuninya.

Yang sering saya dan generasi saya (umumnya) lupa untuk menyadari,
generasi muda-nya itu sudah bukan lagi kami. Bukan kami lagi yang superior dan dominan dalam mempengaruhi trend demand di suatu industri…
— Arya Dhiratara

– – – 00 – – –

Fokus di Konten = Fokus pada ‘kepuasan’ dasar

Dalam teori Diferensiasi, ada 2 istilah yang menjadi dasar dalam menentukan area diferensiasi suatu produk/jasa: Konten dan Konteks.

Konten adalah what we’re offering. Konteks adalah how we offer it. Mudahnya, konten adalah apa yang kita jual. Konteks adalah kemasan, atau bagaimana kita mengemas dan menawarkan apa yang kita jual.

Waktu saya kecil, saya lupa dalam kesempatan apa, bapak saya pernah bilang: “kalau dikasih 7 sudah cukup, kenapa harus kasih 9 atau 10?”. Hal itu sepertinya bisa jadi ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini.

Akhir-akhir ini, anak saya sedang hobi-hobinya main kartu. Saya mengajarkan prinsip yang kurang lebih sama: “kalau ngeluarin kartu 7 saja udah cukup untuk menang, kenapa harus ngeluarin raja? raja atau As-nya disimpan aja untuk dikeluarin terakhir-terakhir.”. Menyimpan raja atau As ini bisa diartikan dengan menyimpan ‘bahan bakar’ atau resource, agar kita sebagai perusahaan bisa terus ‘berkiprah’.

Saat ini, kita tidak perlu lagi memberikan ‘kesempurnaan’ yang absolut untuk produk/jasa kita. Karakter pasar saat ini mayoritas tidak mencari lagi nilai 9-10. Mereka sudah cukup puas asalkan itu sudah memenuhi kebutuhannya. Nilai 7, dalam tulisan ini adalah ilustrasi atas ‘kepuasan’ dasar tersebut. Karena peningkatan kepedulian terhadap wallet share, nilai 9-10 sudah menjadi sangat tersier bagi mayoritas pasar saat ini. Selisih atau sisa-nya bisa ‘dikonsumsikan’ untuk kebutuhan-kebutuhan yang lain.

Di Another Point of View (2): Brand awareness ≠ Sales, saya juga bercerita bahwa Top of mind merek yang ada di kepala saya ketika mencari tiket pesawat adalah di perusahaan berlogo burung. Salah satu alasan saya menyukainya adalah karena saya sangat suka dengan tampilan aplikasinya yang menurut saya sangat ‘humble‘ dan humanis.

Tapi akhir-akhir ini, saya sering hanya menggunakan aplikasinya untuk ‘mencari’. Saat sudah mencapai tahap membeli, saya membanding-bandingkan harga yang termurah dari penyedia jasa layanan tiket yang lain dulu untuk membeli tiket tersebut. Dan itu akhirnya sering tidak dari perusahaan berlogo burung tersebut, yang bahkan menurut saya interface aplikasinya tidak humanis dan user friendly. Interface aplikasi, dalam hal ini, adalah konteks.

Sekali lagi, konten dan ‘kepuasan’ dasar lah yang penting saat ini. Bukan konteks. Menurut saya. Wong ya konsumen saat ini sudah sangat peduli pada wallet share nya :)

Fokus di konten dalam kaitannya dengan contoh di atas adalah, dari semua aplikasi (perusahaan) yang saya banding-bandingkan, semuanya sadar untuk memberikan ‘kepuasan’ dasar: kemudahan mencari, kemudahan membeli, dan keamanan bertransaksi.

Ketika konsumen atau target pasar kita sudah sangat cukup dengan nilai 7, sempurnalah di nilai 7 tersebut. Kerahkan semua resource kita di nilai 7 itu.

Fokus di konten, jangan memasuki industri dengan produk yang terlalu dominan ‘menjual’ konteks. Kecuali bila kita 100% yakin bahwa konteks yang kita tawarkan memiliki diferensiasi yang absolut, dan yang terpenting… pasarnya ada, relevan, reachable, dan scalable.

Di Jogja, dan saya yakin kota-kota besar lain juga, banyak sekali pemain-pemain baru di industri kuliner yang ‘banyak bermain’ di konteks. Tingkat persaingannya sudah sama tingginya dengan pemain-pemain yang ‘hanya’ bermain di konten. Ketika tingkat persaingan sudah sama-sama tinggi, ‘bahan bakar’ kita bisa bertahan lebih lama bila kita lebih banyak fokus di konten dan nilai 7 tadi, bukan?

Ingat, konten (dan konteks) yang kita tawarkan harus merupakan solusi atas kebutuhan konsumen (jadikan solusi ini sebagai positioning, dan terjemahkan ke dalam tagline). Konsumen yang mana? Nah, ini yang harus kita sesuaikan dengan pasar yang kita tuju. Balik lagi ke paragraf tentang consumer-oriented dan product-oriented dalam Another Point of View (2): We Are The Enterprise.

– – – 00 – – –

 

Another Point of View (4): We Are The Enterprise

We are the Enterprise

Di Another Point of View (1): Dunia dengan Berjuta Pilihan, saya bercerita bahwa dunia kini dibanjiri dengan pilihan. Berjuta, rasanya :)

Dunia bisnis saat ini sudah dipenuhi dengan ‘supply‘. Impian untuk dapat membuat perusahaan yang melegenda, seperti ‘the big boys‘ yang sudah memulai semuanya lebih dulu sejak bertahun-tahun atau bahkan berdekade-dekade yang lalu, sudah harus mulai saya kesampingkan dulu. Paling tidak, untuk saat ini.

*Percayalah, dari apa yang saya lihat, that ‘the big boys’… saat ini juga sedang bingung melakukan ‘pivot’ mengubah cara dirinya dalam ‘berbisnis’. Bukan karena daya beli kita yang turun. ‘Gaya beli’nya yang berubah. Kepadatan traffic dari supply dan demand-nya yang sudah sedemikian tinggi saat ini.

Saat ini kita tidak bisa lagi berharap merek dari perusahaan yang kita bangun bisa akan selalu menjadi pilihan selama berpuluh-puluh tahun seperti karier Michael Landon (1959-1989: Bonanza, Little House on the Prairie, Highway to Heaven).

Tanpa bermaksud merendahkan kemampuan dan kharisma mendiang Michael Landon, bila hidup di era sekarang, beliau juga akan menghadapi hal yang sama dan mungkin tidak bisa menjadi aktor pilihan para sutradara dan produser (atau bahkan penonton) selama belasan atau puluhan tahun lamanya.

Apa yang dulu bisa dicapai oleh suatu merek atau perusahaan, bertahan belasan atau puluhan tahun, meraih omzet puluhan atau ratusan milyar tiap tahun, kini sepertinya hanya bisa kita raih dengan memiliki lebih dari 1 bisnis dan terus adaptif dengan perubahan yang ada.

Peningkatan jumlah pilihan yang semakin banyak dan perubahan yang situasi pasar yang semakin cepat, membuat fokus pada ‘hanya’ 1 bisnis sudah tidak relevan lagi saat ini. “Wis gak usum!“, kalau istilah kota kelahiran saya :)

Memiliki beragam bisnis untuk melayani beragam demand saat ini, lebih baik dibandingkan hanya fokus di 1 bisnis dan 1 produk saja, dan berharap konsumen tidak pernah berubah.

Ingat, menjadi consumer-oriented sangat lebih baik dibandingkan dengan product oriented. Lebih mudah menjual produk/jasa yang memang diinginkan oleh lingkungan kita daripada memaksakan lingkungan kita membeli produk/jasa yang menurut kita bagus, bahkan hebat.

Contoh: Warung makan yang dibuka karena kita punya lahan di lokasi yang ramai dan strategis, dekat dengan kampus atau kos-kosan, akan lebih memiliki peluang untuk ramai daripada warung makan yang dibuka karena kita merasa kita bisa membuat masakan yang lebih enak daripada yang lain. Kuncinya adalah ‘membaca’ dan menggali demand (bahkan yang sifatnya masih latent demand ya). Terus dan terus.

Well, I’m not saying that fokus di 1 bisnis itu salah. Semua tergantung jenis produk/jasa kita, skala usaha kita, dan tingkat persaingan dalam kategori tersebut.

PR kita adalah membuka mata, dan membaca dengan jeli, segala situasi di industri yang sudah kita masuki. Jangan ragu untuk selalu jujur pada diri kita sendiri saat menjalani proses ini.

Perusahaan itu adalah diri kita sendiri. Siapkan lebih dari 1 bisnis. Buat itu menjadi hits. Tutup sebelum merugi, dan besarkan yang lain lagi sebelum yang akan merugi itu ditutup. *Maksimal, pertahankan 1 bisnis saja yang sudah kita anggap seperti ‘anak’ kita sendiri :D

Tidak perlu lagi berjuang untuk membuat merek yang melegenda. Cukup berjuang untuk meraih income yang maksimal pada periode yang sudah kita ukur dan rencanakan. Being a winner along with other winners at the time being…

“Diri kita lah perusahaannya,
bukan perusahaan X yang kita dirikan beberapa tahun yang lalu…”
Arya

Saya sendiri cukup terlambat menyadari dan mengakui hal ini :)

– – – 00 – – –

Memiliki lebih dari 1 Bisnis

Don’t give up.“, itu mindset yang sering ditanamkan pada diri kita sejak kita masih belajar berjalan atau bermain sepeda.

Ada saatnya, dimana kita harus ‘cuek’, dan tidak memperdulikan omongan sekitar, untuk terus maju dan membesarkan bisnis yang sedang kita jalani.

Tapi ada saatnya juga, dimana we really should know when to stop or give up, untuk membesarkan diri kita, sebagai pebisnis. For the greater good :)

Apalagi yang bisa kita bangun? Kuncinya ada di Diversifikasi, Intensifikasi, dan/atau Ekstensifikasi.

Kita bisa memulai dengan memikirkan Diversifikasi, Intensifikasi, dan/atau Ekstensifikasi dari bisnis yang sedang berjalan, sebagai langkah untuk memperpanjang usia bisnis yang sedang kita jalani saat ini.

Setelah itu, baru memikirkan Diversifikasi, Intensifikasi, dan atau Ekstensifikasi dari apa yang kita bisa (dari sisi skills, experiences, dan resources), agar dapat memulai bisnis baru.

Ingat, semuanya harus berhulu pada demand. Terus ulangi proses ‘hibernasi’ ini secara periodik. Jadikan proses ini sebagai habit, agar kita, sebagai perusahaan, dapat terus berkiprah di dunia yang terus semakin cepat berubah.

Menggunakan Diagram Analisis 4C-Diamond (Change, Customer, Competitor, dan Company) dari Hermawan Kartajaya, dan menggunakan mindset bahwa “C” yang Company itu adalah diri kita, dapat mempermudah proses ini :)

Untuk membaca sedikit gambaran tentang Analisa 4C-Diamond bisa dibaca di sini.

Atau bila ingin lebih sederhana, seperti yang biasa saya lakukan untuk memahami dasar awal dari sesuatu, ambil arti harfiah dari keempat kata “C” tersebut, lalu hubungkan dengan konteksnya; dunia bisnis saat ini. It usually works for me ;)

– – – 00 – – –

PS: Saya memutuskan untuk memulai rajin menulis lagi ini adalah bagian dari hasil proses hibernasi tersebut :)

 

Another Point of View (3): Brand awareness ≠ Sales

Brand awareness ≠ Sales

Brand awareness yang tinggi saat ini sudah tidak memberikan jaminan lagi untuk menghasilkan sales yang tinggi bagi bisnis kita.

Dulu, kita banyak diajarkan tentang pentingnya membesarkan brand dan pentingnya mengejar posisi Top of Mind atas asosiasi merek kita di benak konsumen dalam kategori produk/jasa yang kita masuki. Ilmu tentang ini bisa berbuku-buku banyaknya.

Saking banyaknya yang serius dengan teori brand ini, bahkan sampai banyak yang berusaha menanamkan teori bahwa ‘brand‘ dan ‘merek’ itu ‘beda’.

Hehe, saya terkekeh sekali waktu mendengar sekelompok pemuda saling memamerkan pengetahuannya tentang ini di suatu kafe, bertahun-tahun silam.

Kuwi yo mung gur bahasa inggris karo bahasa indonesiane, cah! Bahasa Indonesiane ‘brand’ kuwi yo merek. Dolanmu kadohan, tapi sing cedhak-cedhak ora mbok nguri-uri…

Anyway… itu dulu. Saat ini, saat menjadi konsumen, kita bahkan sering tidak sempat lagi untuk memikirkan mereknya saat membeli sesuatu.

Dengan adanya kemudahan ‘window shopping‘, sebagai konsumen kita bisa dengan mudah memilih harga yang termurah di kategori produk yang sama, atau bahkan untuk barang/jasa yang sama.

Contoh termudah untuk ini bisa kita temukan saat kita perlu membeli tiket pesawat, voucher listrik, dsb. Atau saat kita butuh untuk berbelanja berbagai hal yang bisa kita cari di online-marketplace.

Di industri kuliner, para pemilik resto/warung saat ini banyak yang sedang kebingungan mencari pelanggan. Resto/warung yang dimilikinya sudah tidak bisa lagi berharap untuk terus-menerus menjadi pilihan tempat yang dituju, walaupun selalu sukses memberikan kepuasan yang maksimal pada setiap konsumen yang datang, saat itu.

Pilihannya sudah terlalu banyak. Bahkan yang baru terus bermunculan. Sudah menjadi karakter umum manusia untuk selalu mencoba hal yang baru.

Layanan pesan-antar makanan secara online yang dewasa ini booming, ikut membuat proses ‘window shopping‘ dan mencoba hal yang baru itu menjadi semakin mudah.

Semua orang bisa dengan mudahnya memilih, dan tidak lagi loyal pada suatu merek. “Alasannya, kadang se-simple karena mereka cuma nyari pengalaman yang baru aja”, kata istri saya.

Di area wisata dan leisure juga sering seperti itu. “Sekarang ‘jaman’nya mengkonsumsi dan mengkoleksi ‘pengalaman'”, lanjut istri saya :)

– – – 00 – – –

Top of Mind ≠ Top of Choice

Being a Top of Mind Brand kini tidak selalu berujung pada Top of Choice saat target pasar kita perlu untuk membeli sesuatu.

Mungkin banyak teori di mata kuliah Marketing sudah perlu direvisi untuk menjadi lebih tactical, instead of strategical. Dunia-nya memang sudah berubah.

*Saat ini, menjadi Top of mind di mata google (menjadi top rank dalam hasil pencarian) bisa lebih menjamin sales, dibandingkan menjadi Top of mind di benak konsumen. Begitu juga dengan menjadi Top of ratings dan Top of reviews di suatu aplikasi.

Top of mind merek yang ada di kepala saya ketika mencari tiket pesawat adalah perusahaan penyedia layanan pemesanan tiket yang berlogo burung. Tidak hanya Top of mind, tapi juga Top of heart. Karena saya suka dengan perusahaan tersebut dari sejak awal kelahirannya, dan sangat menyukai tampilan aplikasinya yang menurut saya sangat ‘humble‘ dan humanis.

Sayangnya, terutama sejak setahun terkahir ini, saya sering hanya menggunakan aplikasi perusahaan berlogo burung tersebut untuk ‘mencari’. Saat sudah menemukan pesawat dengan jam keberangkatan yang saya incar, saya membanding-bandingkan harga yang termurah dari penyedia jasa layanan tiket yang lain dulu untuk membeli tiket tersebut. Dan itu akhirnya, sering tidak dari perusahaan berlogo burung tersebut.

Dengan hanya menggunakan telepon genggam dan meluangkan sedikit waktu, saya bisa dengan sangat mudah mendapatkan harga termurah dari tiket yang saya incar tersebut. Walaupun itu tidak dari penyedia yang saya familiar menggunakan layanan dan aplikasinya.

Tipe konsumen saat ini hanya loyal pada dirinya sendiri; sangat memikirkan expenses dari wallet share mereka. Saya juga :)

Memahami dan fokus pada wallet share ini kini sudah menjadi jauh lebih penting daripada fokus merebut mind-share.

– – – 00 – – –

So what do we do with Brand?

I’m not suggesting that kita sudah tidak perlu memikirkan tentang brand dan bagaimana cara meningkatkan awareness dan ekuitas-nya.

Perlu, tapi tidak perlu lagi ‘terlalu serius’ berfokus pada ini. I really mean it.

Untuk banyak jenis produk/jasa, yang terpenting saat ini adalah harga, dan ‘kemudahan’. Kemudahan dicari, kemudahan diakses, kemudahan transaksi, dsb. *Khusus yang online, tambahkan faktor ‘keamanan’ dalam kalimat tadi ya.

Di sisi brand-nya, bagi saya, yang perlu kita pikirkan sekarang cukup dengan ‘hanya’ menjaga positioning merek kita supaya tidak ‘cacat’ atau melenceng dari tujuan. The other things… not that much matter these days. Terutama bila skala usaha kita masih ‘belum besar’ atau masih berjuta-juta kilometer jauhnya dari rencana go-public.

Kuncinya: Jaga positioning. Fokus di ‘Harga’ dan ‘Kemudahan’.

– – – 00 – – –

 
PS: Saat membuat dan berusaha mencari tambahan contoh kasus untuk tulisan ini, saya menemukan ternyata salah satu idola saya di masa muda, Yuswohadi, juga menulis tentang ini dengan contoh yang mirip tapi dengan sudut pandang yang berbeda dan lebih detail di The End of Brand :)
 

*Bersambung ke: We Are The Enterprise

 

Another Point of View (2): Borderless, and Barrierless World

Semua bisa menjual dan membeli apa saja

Dunia bisnis sudah berubah. Kemajuan teknologi memberikan ruang yang sangat luas bagi kita semua untuk berkreasi membuat produk baru. Baik yang itu sifatnya murni meniru, menambah sedikit modifikasi (ATM), maupun yang benar-benar baru –originally.

Pada saat yang sama, perkembangan teknologi informasi membuat barrier untuk ‘menjual’ produk tersebut nyaris tidak ada lagi saat ini.

Singkatnya, kita jadi bisa membuat apa aja, menjual apa aja… dan membeli apa aja… dari mana aja.

Contoh-contoh sederhana ini pasti semua mengamini:

  • Online:
    Sebagai pengusaha, kita bisa dengan mudah ‘menjual’ produk/jasa kita melalui media-media online; membuat website kita sendiri, melalui online marketplace, dan bahkan di media-media sosial (atau menggunakan semuanya). Begitu juga sebaliknya, saat kita perlu membeli.
  • Offline:
    Di Jogja kita bisa menemukan banyak penjual jajanan dan minuman-semi-cepat-saji baru yang ‘hanya’ sekedar menyewa halaman depan rumah tetangga untuk berjualan. Memang tidak legal, tapi di Jogja ini menjamur :)

Yang legal dan lebih serius? Di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini, proses mendirikan perusahaan baru semakin dipermudah.

Fyi, Ease of Doing Business (EoDB) di Indonesia sejak tahun 2016 hingga 2018 total naik sebanyak 37 tingkat/peringkat. Dari peringkat 114 pada tahun 2015, menjadi 109 di tahun 2016, menjadi peringkat 91 pada tahun 2017, dan 72 di tahun 2018. Kita adalah Top Performer di antara negara-negara Asean untuk area ini.

Di survei tahun ini, peringkat EoDB Indonesia turun 1 tingkat (menjadi peringkat 73), meleset jauh dari target pencapaian pemerintah. Tapi dari indikator-indikator yang umum semuanya naik, dan poin-nya banyak yang tidak sedikit. (*Baca detailnya di sini)

Saya sendiri menikmati kemudahan-kemudahan ini saat membuat PT untuk @LiburanJogja, tahun 2016 kemarin. Semuanya jadi mudah dan cepat karena banyak proses yang sudah dijadikan 1 atap pengurusannya.

Saya juga menikmati sekali perubahan tarif PPh Final sebesar 0,5% yang berlaku sejak bulan Agustus 2018 kemarin :)

Kembali ke tema. Semua perubahan-perubahan yang terjadi saat ini membuat kita, saat menjadi konsumen, menjadi sangat peduli sekali dengan harga.

Mendapatkan harga termurah itu sudah menjadi suatu keharusan saat ini, demi bisa meng-cover kebutuhan dan keinginan yang lain… yang terus saja bertambah (atau sekedar meningkat ‘kasta’nya), seiring waktu.

Kebutuhan bertambah, Decision for buying berubah

Perubahan jaman yang semakin cepat ini benar-benar sudah mengubah tatanan hidup semua generasi sekaligus memunculkan kebutuhan-kebutuhan baru.

Kebutuhan berwisata, misalnya. Kebutuhan ini, hingga sekitar akhir dekade 90’an, masih banyak dimasukkan dalam kategori kebutuhan tersier. Dan seringnya, alasannya bukan karena keterbatasan dana. It was just not ‘a thing’ back then…

Kini, berwisata sudah meningkat ‘kasta’nya menjadi kebutuhan sekunder, atau bahkan primer, bagi sebagian besar kelompok, dari kelas ekonomi manapun.

Agenda berlibur keluarga minimal 1 tahun sekali itu sudah menjadi wajib. Ada yang bahkan memang menjadwalkan sampai 3 hingga 4 kali dalam 1 tahun.

Perubahan ini tidak hanya terjadi di ‘kelompok’ keluarga, corporate pun begitu. (Alhamdulillah! ;D)

Kelompok yang menyisihkan keuangannya untuk berlibur pun sudah tidak didominasi lagi dari kelompok keluarga dan kantor. Sekarang sudah banyak sekali individu-individu yang melabeli dirinya sebagai Solo Traveler.

Kita bisa dengan mudah melihat fenomena-fenomena (baru) di dunia pariwisata ini di Instagram, sejak beberapa tahun terakhir ini :)

Contoh lain lagi: Laptop. Hingga jaman awal saya masuk kuliah di awal dekade 2000’an dulu, memiliki 1 PC di rumah atau kos, numpang di warnet, atau meminjam komputer di lap kampus, sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kuliah dan hiburan. Kini, setiap mahasiswa/i tampaknya wajib memiliki 1 laptop pribadi. *Hehe, saat membuat tulisan ini, saya sedang berada di suatu tempat ngopi yang sedang dipenuhi oleh mahasiswa/mahasiswi yang sedang membuka laptopnya masing-masing di setiap meja.

Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang bisa kita ‘lihat’ dengan sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kita dulu tidak memerlukan hp, paket data, flashdisk, whatsapp, social media, dsb. Kita dulu juga tidak terlalu mementingkan asuransi, investasi, bahkan Go-jek.

Bahkan kebutuhan untuk nongkrong di cafe untuk mengerjakan tugas kuliah seperti yang sedang saya lihat saat ini pun, tergolong kebutuhan baru, yang tentunya akan memecah lagi wallet share dari para mahasiswa dan mahasiswi tersebut.

The bottom line is, teknologi berkembang, ragam produk/jasa bertambah, ‘menjual’ produk/jasa menjadi mudah, ragam produk/jasa makin bertambah, mempengaruhi gaya hidup, kebutuhan hidup bertambah, ragam produk/jasa bertambah lagi, hingga akhirnya, mempengaruhi faktor-faktor yang menyebabkan kita memutuskan untuk ‘memilih’ dan membeli.

Dan faktor-faktor ini, bukan lagi merek, penyebab utamanya.

Rowing harder doesn’t help if the boat is headed in the wrong direction.
— Kenichi Ohmae

– – – 00 – – –

*Bersambung ke: Brand awareness ≠ Sales